Permudah akes ramaja mendapatkan kondom " menkes baru Mboi"

Gebrakan Menkes : Kondom untuk Remaja?


Jakarta, Menkes yang baru sudah resmi dilantik oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masa kerjanya memang tak lama, hanya 2,5 tahun. Namun bukan berarti masa bakti yang singkat itu menghalangi Menkes untuk membuat suatu perubahan yang signifikan demi tercapainya kondisi kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Dalam jumpa pers yang digelar di Ruang Leimena kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (14/6/2012) kemarin, Menkes memang masih belum dapat mengemukakan program-program kerja seperti apa yang akan dilaksanakan secara konkrit.

"Saya sudah menandatangani kontrak kinerja dengan presiden. Yang bagus adalah, di dalam kontrak kinerja ada targetnya, misalnya memastikan pencapaian target kemenkes 2014. Jadi, saya bersama teman di kemenkes tinggal memonitor program-program yang ada agar selesai sesuai target yang ditetapkan bersama. Saya tidak bikin target baru dalam kontrak kinerja yang juga sudah ditandatangani Bu Endang (Alm.) ini," kata Menkes.

Rencananya, Menkes bersama jajaran mulai besok pagi akan membahas secara intensif tantangan apa yang akan dihadapi oleh Kementerian Kesehatan untuk beberapa tahun mendatang. Namun secara eksternal, Menkes mengaku tantangannya adalah wilayah Indonesia yang sangat luas dan memiliki masalah kesehatan yang berbeda-beda.

"Untuk pastinya, silakan tanya saya lagi satu bulan dari sekarang," demikian kata Menkes.

Disindir mengenai permasalahan HIV/AIDS yang telah menjadi isu yang akrab ditangani selama beberapa tahun terakhir, Menkes yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional ini berharap dapat melakukan gebrakan. Yaitu mengusulkan agar remaja dipermudah aksesnya untuk mendapat kondom.

"Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganlisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN," kata Menkes.

Menkes melihat, angka sebanyak itu menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Ia menegaskan, Undang-Undang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak yang dikandung sampai dilahirkan harus diberikan haknya sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan.

Tentu saja hal ini mungkin akan mendapat pertentangan dari kelompok-kelompok tertentu yang menganggap pemberian kondom kepada remaja dapat memicu seks bebas. Tapi Menkes berpendapat, jika pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi sudah cukup baik, tidak perlu ada kekhawatiran idenya ini akan memicu seks bebas.

"Kita akan membahas bagaimana hak-hak anak dalam kandungan ini dapat terpenuhi. Kampanye kondom difokuskan untuk seks yang berisiko. Untuk mempercepat pencapaian goal MDGs, maka kampanye kondom merupakan suatu kewajiban. Setiap hubungan seks yang berisiko menularkan penyakit atau kehamilan yang tak diinginkan adalah hubungan seks yang berisiko," tegas Menkes.

sumber: detikhealth

Bagi lulusan SMA yang memang berniat jadi PNS

Daftar Perguruan Tinggi Kedinasan di Indonesia.

Bagi para lulusan SMA sederajat yang memang sudah bulat keinginan untuk jadi PNS, PTK adalah jalur yang tepat. Mereka tidak perlu mengikuti jalur PTN dimana PTN umumnya mempunyai biaya yang lebih besar dari PTK. PTK sering menyediakan beasiswa dari instansi yang terkait, disamping itu lulusan PTK akan mendapat ikatan dinas dari instansi yang membawahinya sehingga peluang untuk langsung menjadi PNS akan lebih besar dibandingkan dengan lulusan PTN. Yang penting siapkan diri kamu, belajar dengan benar, dan ingat " JANGAN BERMENTAL MANDOR DAN KORUPSI !!" Rakyat sudah jenuh dengan hal itu.

Inilah daftar PTK di Indonesia

Badan Intelijen Negara
  1. Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), Sentul, Bogor, Jawa Barat
Badan Meteorologi Dan Geofisika
  1. Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Pd. Betung (Bintaro, Tangerang, Banten)
Badan Pertahanan Nasional
  1. Akademi Militer (TNI Angkatan Darat), Magelang, Jawa Tenkkgah
  2. Akademi Angkatan Laut (TNI Angkatan Laut), Surabaya, Jawa Timur
  3. Akademi Angkatan Udara (TNI Angkatan Udara), Yogyakarta
  4. Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (TNI Angkatan Laut), Surabaya, Jawa Timur
  5. Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Darat (TNI Angkatan Darat), Malang, Jawa Timur
Badan Pertanahan Nasional
  1. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Yogyakarta
Badan Pusat Statistik
  1. Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), Jakarta
Badan Tenaga Nuklir Nasional
  1. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Departemen Dalam Negeri
  1. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), gabungan dari STPDN dan IIP
Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
  1. Akademi Minyak Dan Gas Bumi (Akamigas), Cepu, Blora, Jawa Tengah
Departemen Hukum Dan Hak Asasi Manusia
  1. Akademi Imigrasi (AIM), Gandul (Cinere, Kota Depok, Jawa Barat)
  2. Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP), Gandul (Cinere, Kota Depok, Jawa Barat)
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
  1. Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung(STPB), Bandung, Jawa Barat
  2. Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (STB Bali)
  3. Akademi Pariwisata Medan
  4. Akademi Pariwisata Makasar
Departemen Keuangan
  1. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Kabupaten Tangerang
Kementerian Kelautan dan Perikanan
  1. Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta, DKI Jakarta
  2. Akademi Perikanan Bitung (APB), Bitung, Sulawesi Utara
  3. Akademi Perikanan Sidoarjo, APS, Surabaya, Jawa Timur
  4. Akademi Perikanan Sorong, APSOR, Sorong, Papua Barat
  5. Sekolah Tinggi Perikanan Bogor (STP Jurluhkan), Bogor, Jawa Barat
  6. Sekolah Usaha Perikanan Menengah Bone (SUPM Bone), Bone, Sulawesi selatan
Departemen Kesehatan
  1. Akademi Fisioterapi Surakarta, Jawa Tengah
  2. Akademi Keperawatan
  3. Akademi Teknik Medik
Departemen Perhubungan
  1. Sekolah Tinggi Transportasi Darat Bekasi, Jawa Barat
  2. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta, DKI Jakarta
  3. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Curug, Jawa Barat
  4. Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan Medan, Sumatra Utara
  5. Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan Surabaya, Jawa Timur
  6. Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan Makassar, Sulawesi Selatan
  7. balai pendidikan dan pelatihan ilmu pelayaran tangerang, banten
Departemen Perindustrian RI
  1. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung (ST3), Bandung, Jawa Barat
  2. Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jakarta (STMI), Jakarta, DKI Jakarta
  3. Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta (ATIK), Yogyakarta, DIY
  4. Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta (APP), Jakarta
  5. Akademi Teknologi Industri Padang (ATIP), Padang, Sumatra Barat
  6. Akademi Teknologi Industri Makassar (ST3), Makassar, Sulawesi Selatan
  7. Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan (PTKI), Medan, Sumatra Utara
  8. Akademi Kimia Analisis Bogor (AKA), Bogor, Jawa Barat
Departemen Sosial
  1. Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Bandung, Jawa Barat
Kepolisian Negara RI
  1. Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang, Jawa Tengah
Lembaga Administrasi Negara
  1. Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara - Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN), Bandung, Jawa Barat
Departemen Pertanian ; Perkebunan ; Kehutanan
  1. Politeknik LPP Yogyakarta (PLPP), Yogyakarta, DI Yogyakarta
  2. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agribisnis Perkebunan (STIP-AP), Medan, Sumatera Utara
  3. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Medan (STPP Medan), Medan, Sumatera Utara
  4. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang (STPP Magelang), Magelang, Jawa Tengah
  5. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Gowa (STPP Gowa), Makassar, Sulawesi Selatan
  6. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Malang (STPP Malang), Malang, Jawa Timur
  7. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor (STPP Bogor), Bogor, Jawa Barat
  8. Sekolah Pertanian Pembangunan Banjarbaru (SPP Banjarbaru), Banjarbaru, Kalimantan Selatan
  9. Sekolah Pertanian Pembangunan Kupang (SPP Kupang), Kupang, NTT
  10. Sekolah Pertanian Pembangunan Sembawa (SPP Sembawa), Sembawa, Sumatera Selatan
Lembaga Sandi Negara Republik Indonesia
  1. Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Bogor, Jawa Barat


sumber data


WE WANT BEER - WE WANT BEER

"WE WANT BEER- WE WANT BEER"

Oleh: Jum'an

Januari 1920. Amandemen ke 18 Konstitusi Amerika mulai berlaku. Isinya, melarang penjualan, pembuatan atau pengangkutan alkohol. Ini dielu-elukan oleh kaum agama dan moralis sebagai langkah positif untuk membersihkan masyarakat dari kejahatan akibat minuman keras (miras). Pendeta fanatik Billy Sunday mengobarkan semangat umatnya dengan ramalan yang optimis: "Zaman air mata segera berakhir. Daerah kumuh tinggal kenangan. Kita akan mengubah penjara menjadi pabrik dan sel-sel menjadi lumbung gandum. Kaum pria akan melangkah tegak, wanita akan tersenyum dan anak-anak akan tertawa. Neraka akan kita kontrakkan untuk selamanya........." Upaya melarang minuman keras sudah ada sejak berabad-abad; yang secara tradisional dipelopori oleh pemimpin agama. Pada abad 19, kaum wanita ikut pula terjun dalam gerakan anti miras. Mereka cemas dengan akibat alkohol pada suami dan anak-anak mereka. Tidak jarang gerakan itu dilakukan dengan kekerasan. Carrie Amelia Nation adalah pimpinan kelompok wanita radikal anti alkohol terkenal pada zamannya. Wanita tinggi besar ini dengan kampak ditangan, menyerbu dan merusak bar dan salon penjual miras. Kelompok yang lain melobi pemerintah untuk mendesakkan pelaksanakan larangan itu. Akhirnya Amandemen ke18 itu diratifikasi dan larangan itu dikuat-kuasakan pada tingkat federal. Setiap minuman yang mengandung lebih dari 0,5 persen alkohol dilarang di AS.

Tetapi akibat yang tidak terduga dari larangan yang bercita-cita mulia itu belakangan menjadi bencana bagi Amerika. Menurut sasterawan Mark Twain larangan itu adalah awal kebiasaan baru mabuk di belakang pintu dan tempat gelap ... Larangan itu tidak menyembuhkan ataupun mengurangi kegemaran pada alkohol. Penyulingan alkohol dirumah-rumah dan penyelundupan serta merta berkembang bersamaan dengan dimulainya larangan itu. Toko-toko mulai menjual alat penyuling portabel. Miras selundupan membanjir dipasar gelap. Dokter mulai meresepkan alkohol untuk "tujuan pengobatan." Dengan menyuling sendiri orang menambahkan bumbu-bumbu dlm alkohol mereka dan yang sering menimbulkan keracunan. Dengan dilarang lebih banyak orang ingin mencoba. Orang yang tak pernah minum, sekarang bergabung dalam petualangan melanggar hukum. Bar berganti menjadi "speakeasies" (warung remang-remang), tempat minum yang tersamar. Penyelundupan minuman yang lebih keras meningkat dan bahaya kesehatan para peminumnya meningkat. Geng lokal yang berbisnis prostitusi, perjudian dan pemerasan berkembang menjadi sindikat kejahatan besar-besaran begitu memasuki bisnis miras ilegal. Keuntungan besar hasil kejahatan itu, sebagian mengalir ke kantong politisi dan aparat penegak hukum dalam bentuk suap atau pemerasan. Polisi jadi enggan bertindak. Selain itu, banyak politisi secara terbuka menentang larangan minuman keras itu.

Akhir 1920-an, banyak pendukung anti alkohol mengakui kesalahan mereka dan mulai minta untuk dicabut. Banyak pengakuan mengenai banyaknya efek larangan miras yang merugikan masyarakat, termasuk timbulnya kematian dan penyakit, kejahatan dan kekerasan. Tujuh juta orang menandatangani petisi mengecam larangan  miras dengan efek buruknya. Ketika terjadi depresi hebat tahun 1930an, lebih banyak lagi orang Amerika bergabung dalam protes terhadap larangan miras. Dikota-kota besar, orang berpawai membawa poster "We Want Beer" untuk menuntut dicabutnya larangan miras itu. Akhirnya, pada Desember 1933 Amandemen ke 21 diberlakukan, yang mengakhiri larangan terhadap minuman keras. Larangan terhadap minuman keras telah gagal.  Yang tertinggal sekarang hanya "dilarang mengemudi dalam keadaan mabuk.."

Sampai saat ini AS dikenal galak, bahkan menyokong negara lain menghadapi perang anti-narkoba. Tetapi dalam KTT nagara-negara Amerika di Cartagena Colombia April 2012, para pemimpin Amerika Latin menyatakan bahwa perang anti-narkoba telah gagal. Presiden Guatemala Otto Perez Molina yakin pendekatan baru sangat dibutuhkan. Sebagai mantan intelijen militer yang berhadapan langsung dengan kekuatan kartel narkoba, Molina mengajak sesama pemimpin Amerika Latin untuk mendukung rencana keamanan baru yang akan mengakhiri larangan terhadap narkoba. "Perang anti-narkoba saat ini didasarkan pada premis yang salah, yaitu keyakinan bahwa narkoba akan bisa diberantas." Pérez Molina mengakui bahwa membebaskan konsumsi, produksi dan perdagangan narkoba adalah tidak bertanggung jawab. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan yang lebih liberal. Dia menegaskan, Larangan telah gagal dan cara alternatif harus ditemukan. Guatemala mengusulkan untuk tidak pandang ideologi dalam kebijakan obat terlarang, baik regulasi atau liberalisasi. Presiden Meksiko, Felipe Calderon, menyerukan debat nasional tentang pembebasan larangan itu. Juan Manuel Santos, presiden Kolombia, mengatakan bahwa jika legalisasi narkoba dapat menjinakkan kekuatan kartel, dan dunia menilainya sebagai solusi, dia akan menyambutnya...

Demikianlah setelah kalah dalam perang anti-alkohol kini saatnya nagara-negara Amerika Latin mengaku kalah dalam perang anti-narkoba. Mungkin kelak yang tinggal hanya "dilarang menyuntik di jalanan" saja, yang tidak mustahil akan merembet kenegeri kita. Nauzubillah

Cerita tentang Media tanpa Nilai, Ironi Global TV, dan Terpuruknyanya Pers Islam

Hari-hari ini kita makin disibukkan dengan beragam peristiwa. Umumnya semua peristiwa itu tak luput dari mata pers. Dari telinga jurnalis. Dari penciuman wartawan.

Media bergerak meliput dan mengejar kasus dan banyak peristiwa. Maka, kita pun, sebagai pemirsa dan pembaca juga bergerak menyimak berita, mendengar, melihat dan membaca.

Tak jarang kita bersungut. Apalagi jika melihat, mendengar dan membaca berita yang menyebal. Banyak cerita yang bikin panas kuping. Tak sedikit berita yang bikin dahi mengkerut.

Parahnya kebanyakan media lebih berpihak pada ucapan dan omongan batil. Membela yang jahil. Itu namanya media tanpa nilai. Saat ini siapa yang bisa menguasai dan mengendalikan media atau informasi, maka seakan dia itulah yang benar. Yang lain salah.

Sejatinya fungsi media (surat kabar/tabloid, majalah, radio, televisi, film) adalah memberi informasi, membentuk opini, mendidik dan menghibur. Menghibur pun tentu yang sehat. Menghibur bukan jualan seks, menampilkan pornografi dan pornoaksi, sebagaimana telah dilakoni sejumlah media. Banyak media tampil jorok, itu tentu bukan menghibur yang dimaksud.

Manakala sejumlah stasiun televisi mempertontonkan tayangan vulgar, mengumbar aurat dan ngomong jorok, itu namanya bukan menghibur, tapi merusak alias tidak mendidik.

Tatkala film nasional yang, katanya, sedang bangkit, kemudian menjual cerita, tema dan adegan-adegan murahan (ngeseks, hidup bebas/hedonis, perselingkuhan), itu jelas makin melengkapi “sakit”nya sebagian besar masyarakat kita.

Beberapa film Indonesia di bioskop yang berhasil menyedot penonton, sama sekali tidak mengandung dan mengusung nilai (positif). Film-film tersebut, sebagaimana kebanyakan sinetron, hanya menjual gaya hidup yang cenderung jadi pembenaran (justifikasi) kehidupan yang sesungguhnya abnormal, tapi melalui tayangan-tayangan tersebut, jadi sesuatu yang biasa (dianggap normal). Kebatilan yang sudah biasa dilakukan, berulang-ulang, akhirnya seolah dianggap sebagai “kebenaran”.

Itu belum lagi jenis film yang sengaja diproduksi untuk membentuk opini agar orang ragu terhadap Islam. Ingin membuat imej buruk tentang Islam.

Bangsa ini akan tetap terpuruk (berantakan) jika salah satu unsur terpenting, yakni medianya, tidak mencerdaskan, tidak mencerahkan. Fungsi mendidik (mencerdaskan dan mencerahkan) tidak diminati, lantaran media lebih memilih selera pasar yang tengah ‘sakit’.

Media tak lagi berperan sebagai pengarah, pengendali, pembentuk opini yang benar, tapi sebaliknya. Media telah dikendalikan oleh mesin bisnis, para investor, kaum beruang yang lebih melihat peluang pasar, ketimbang visi-misi menyelamatkan bangsa yang sedang rusak dan dirusak ini. Lebih parah lagi, media digunakan untuk menghantam Islam—secara halus ataupun vulgar.

Tuntutan pasar dan kepentingan menghantam Islam membuat banyak orang tambah nekat untuk membuat proyek apa saja yang menghasilkan (secara materi) tanpa memikirkan aspek lain, yakni keterpurukan moral dan akhlak yang telah membuat negeri ini berjalan tanpa kendali.

Sungguh menyedihkan membaca sebagian koran/tabloid, melihat televisi dan film-film bioskop yang sama sekali bebas dari nilai (yang benar). Yang diusung lebih pada nilai-nilai liberalisme. Tanggung jawab media, sebagai pengemban misi dan fungsi: memberi informasi yang benar, membentuk opini, mendidik/mencerdaskan dan menghibur dalam arti sebenarnya sudah banyak diabaikan.

Bill Kovach yang hidup di negara liberal saja, dalam  The Elements of Journalism, mengingatkan bahwa jurnalisme—yang merupakan bagian dari media—setidaknya memiliki kewajiban pertama mengusung kebenaran. Bicara kebenaran, Islam adalah al-Haq.

Sesungguhnya jalan hidup (way of life), yang benar dan diridhai Allah hanyalah Islam. Barang siapa yang mencari-cari jalan hidup selain Islam, ia tertolak!

Sajian media-media kita, terutama kebanyakan tabloid, tayangan televisi dan film-film di bioskop, bukan mendakwahkan yang benar. Pamer aurat dianggap mode, sedang seks bebas jadi gaya hidup. Film-film yang dipertontonkan sangat mendukung gaya hidup seperti tersebut.

Orang hidup serumah tanpa ikatan nikah dianggap normal. Pasangan lesbi dan gay, manakala keluarga, lingkungan dan teman-temannya tahu keadaan mereka sebenarnya, bukannya diselamatkan, malah disupport. Dianggap normal saja, no problem! Digambarkan, sang ibu, menerimanya tanpa usaha untuk menyelamatkan sang anak. Nrimo saja. Ayo, bagaimana masa depan negeri ini 5, 10, 20 tahun mendatang?

Film-film remaja tak kalah dahsyatnya. Semuanya mengarahkan remaja kita untuk hidup bebas, mewah, tanpa arah. Itu karena anggapan, nilai-nilai yang baik tak laku, tak menghasilkan duit. Media (film) sudah terjebak pada jalan pintas, malas memikirkan bagaimana cara membuat film yang bernilai dengan kemasan menarik. Kalaupun ada, itu tak banyak, bisa dihitung jari Karena tidak kreatif, malas, dibuatlah film seadanya. Sekenanya. Mana yang jadi tren hidup sekarang, itulah yang dijual, tanpa memikirkan lagi dampak jeleknya terhadap negeri yang tengah banyak dilanda masalah ini.

Jika semua pihak tak menyuguhkan program dan film-film berselera rendah, memangnya siapa yang protes? Jika kita menemukan sebagian besar rakyat sedang “sakit”, kalau kita dapatkan sebagian rakyat melakukan perbuatan  mungkar dan maksiat, hidup bebas tanpa kendali akhlak, mengapa dipublikasikan? Apabila sarana-sarana maksiat seperti diskotik, tempat-tempat judi dan pelacuran, marak dan berkembang, kenapa segala kejelekan itu kita tayangkan? Bukankah jadi iklan gratis, dan membuat para penonton yang juga punya kecenderungan ke sana  penasaran, terinspirasi, lalu ikut menceburkan diri ke gelanggang maksiat?

Tanpa kemauan dan itikad yang kuat dari pemerintah untuk membereskan sajian dan tayangan yang tidak mendidik ini, tak ada gunanya. Para dai, terutama di lingkungan media (cetak dan elektronik, termasuk film), punya tanggung jawab lebih besar terhadap kerusakan dan ketidakbecusan ini. Mereka harus mendorong pemerintah dan para wakil rakyat agar melahirkan UU tayangan yang mencerahkan lagi mencerdaskan bangsa. Jika tidak, siap-siap saja bangsa ini melahirkan generasi berikut yang lebih parah dari sebelumnya. Akhirnya, bangsa ini benar-benar akan jadi mainan dan dalam kendali bangsa-bangsa lain, lantaran generasi berikutnya bego-bego!

Ketika sebagian dari anak bangsa in tak jujur. Lain di mulut lain di hati. Dan, itu disupport oleh sebagian besar media. Sebut misalnya, dulu, ketika muncul pertarungan antara yang mendukung RUU Anti Pornografi-Pornoaksi (APP—ketika menjadi UU namanya menjadi UU Pornografi-Pornoaksi, kata “Anti” hilang, pen) dengan yang menolak. Banyak media yang sinis terhadap kelompok masyarakat yang mayoritas menyatakan mendukung RUU APP.  Umumnya media justru mendukung kelompok kecil yang menentang RUU APP.

Masih berhubungan dengan contoh di atas, seorang presenter infotainmen wanita yang berpakaian minim (sebagian dadanya tampak) pada sebuah stasiun televisi, berceloteh dengan kebodohannya. Sang presenter mengomentari Aksi Sejuta Umat yang mendukung  RUU APP sehari sebelumnya.  “Di hari libur kemarin di Jakarta ada demo mendukung RUU APP. Ngapain ya, kurang kerjaan kali ya...,” kata si presenter itu. Ia melanjutkan, sambil memegang bagian tubuhnya yang terbuka, “Aduuh, saya jangan didemo ya...”

“Ngapain ya, kurang kerjaan kali ya,” ini jelas omongan asal bunyi yang berangkat dari kebodohan. Sama bodohnya ketika seseorang yang, katanya public figur (artis)—padahal apanya yang jadi figur untuk orang semacam ini—melakukan orasi saat demo menentang RUU APP di Bali. Orasi tidak nyambungnya itu antara lain, “Siang ini di Jakarta mendukung pengesahan RUU APP dengan alasan untuk meningkatkan martabat bangsa ini. Tetapi bobroknya bangsa ini bukan karena goyangan penyanyi dangdut tetapi karena koruptor. Jika RUU APP disahkan, penjara akan dipenuhi oleh seniman, ibu-ibu penjual jamu yang memakai kebaya, sementara koruptor bebas melenggang.”

Kita akan mudah mendapatkan kalimat tak bernalar pada pernyataan di atas. Omongan yang mengada-ada, indikasi orang panik dan sudah kehilangan bobot dalam berbicara. Memangnya para seniman kita ingin membuat karya pornografi? Memangnya dalam RUU APP kebaya dinyatakan sebagai pakaian yang mengandung pornoaksi? Memangnya kalau RUU APP menjadi UU, bangsa ini dipastikan tak bisa mengejar para koruptor?

Kita prihatin, orang-orang yang sering ngomong di televisi dan pernyataannya dimuat di koran, ternyata tak memiliki kapasitas intelektual. Tapi, tanya kenapa, sebagian besar media mengutip dan bahkan mendukung pernyataan tak berbobot mereka. Itu disebabkan banyak media  yang setali tiga uang dengan mereka, sebut misalnya dengan kelompok yang menolak RUU APP.

Ketika Aksi Sejuta Umat mendukung segera pengesahan RUU APP, digelar di Jakarta, harian umum Republika melaporkan jumlah massa sekitar 1 juta orang, sementara media cetak lain dan umumnya stasiun televisi menyebut angka ribuan orang. Itu jauh sekali. Angka ribuan bisa diasumsikan di bawah 10 ribu. Padahal kenyataannya dari laporan sejumlah jurnalis Muslim, tak berbeda dengan angka yang ditulis Republika, sekitar 1 juta.

Bayangkan, saat aksi berlangsung, ruas jalan tol dalam kota ditutup selama 2 jam. Iring-iringan massa dari Bundaran HI bergerak hingga Senayan, Gedung DPR, belum lagi massa yang meleber atau tumpah ruah ke ruas jalan lain. Tapi semua ini tak ditulis oleh kebanyakan media cetak, elektronik dan online yang mendukung segelintir aktris dan LSM yang menolak RUU APP. Sedang media infotainmen yang tayang di stasiun televisi, umumnya sinis. Mereka seakan menutup mata atau tak terima atas realitas. Itu lantaran mereka sama dengan sekelompok kecil orang yang takut bisnis amoralnya mati.

Ironi tentang pendemo yang jumlahnya puluhan minta FPI dibubarkan adalah cerita lain dari contoh nekatnya para pengusung kebatilan—lantaran merasa didukung media. Aneh aja, memang, jumlah pendemo 50-an orang—itu pun terdiri para bencong waria, orang-orang bertato dan tak jelas, selain ada sutradara liberal—tapi kesan yang dibangun unjuk rasa itu ‘wah’ dan berarti sekali untuk membubarkan FPI. Sekali lagi, karena didukung media. Padahal demo tandingan mendukung FPI dan menginginkan Indonesia tanpa Liberal lebih kurangnya berjumlah 10 ribu, tapi oleh media pendukung liberal seperti dianggap angin lalu.

Sekali lagi, sebagai bahan renungan kita, begitulah konsekuensinya jika media dikuasai dan dikendalikan pihak lain. Kita bisanya mengelus dada, mengernyitkan dahi, jengkel, dan seterusnya.

Sampai saat ini hasrat pengusaha dan pemodal Muslim yang bersungguh-sungguh menggarap media, masih belum tampak. Kalaupun ada beberapa di antaranya, tetap tak mau fokus untuk benar-benar menceburkan diri di bidang yang satu ini. Karena sudah dihantui oleh trauma dan ketakutan akan gagal, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah.

Padahal kalau kita berazzam dengan tekad sungguh-sungguh akan menciptakan SDM dan manajemen yang itqan (profesional), maka langkah untuk melahirkan kelompok atau holding company di bidang media yang memiliki izzah, prestise dan unggul, bukan hal yang mustahil.

Berhubung yang mustahil itu belum juga mewujud, maka setidaknya insan-insan pers Islam bersatu dulu. Bersama menyusun kekuatan. Membuat plan, rencana ke depan. Bersungguh-sungguh untuk menggarap bidang yang merupakan sarana amar ma’ruf nahi mungkar ini, sehingga Cahaya Allah menembus kepekatan (jahiliyah) yang mereka pertontonkan.

Ingatlah firman-Nya, “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (Din) Allah melalui mulut (pernyataan-pernyataan dan sarana) mereka, tapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai,” (QS. at-Taubah [9] : 32).

Dengan kesungguhan untuk membendung pengaruh dan bahaya opini mereka, mudah-mudahan Allah menjadikan  kita sebagai kaum pilihan yang berjuang di jalan-Nya melalui media.

Media Islam dan Ironi Global TV

Selama ini dikesankan pers Islam tak menguntungkan, susah mendapatkan iklan dan sulit menjaring pembaca. Kesan itu muncul, lantaran tak pernah terdengar suksesnya  bisnis media Islam di negeri ini. Ketika ada media Islam yang nyaris ‘sukses’ dari segi bisnis, eh ujung-ujungnya selalu dilanda konflik, manajemen tak beres, dan SDM yang diamanahkan mengelola adalah manusia yang jahil (tidak mengerti) dan ‘bahlul’.

Akhirnya, satu-satu media cetak Islam berguguran, terkubur, masuk kotak  atau terseok-seok. “Televisi Islam”? Jangan tanya itu dulu, karena sampai detik ini belum ada “konglomerat Muslim” yang tertarik, di samping kemampuan dana yang masih pas-pasan, sehingga hanya mampu bermain di TV lokal yang siarannya sangat terbatas.

Baiklah, kita fokus dulu ke media cetak. Dalam kurun Orde Baru, tercatat sejumlah media cetak Islam pernah terbit, kemudian tenggelam atau terseok-seok. Sebut misalnya, Majalah Kiblat, Panji Masyarakat, Harmonis, Estafet, Panggilan Azan, Ummat, Harian Abadi, Harian Pelita, Adil, Tabloid SALAM dan Hikmah (dua terakhir terbit di Bandung). Mengapa sejumlah media cetak yang mengusung nama Islam itu tak dapat berkembang atau menghilang dari pasar? Sebab musababnya bervariasi. Tetapi setidaknya ada dua faktor penghambat kemajuan media/pers Islam. Dua hal ini merupakan tantangan yang harus disingkirkan, kalau memang kita ingin membangun pers Islam yang kuat.

Dua hal tersebut berkaitan dengan masalah eksternal dan internal. Faktor eksternal, harus diakui memang, bahwa pihak-pihak luar Islam tak rela jika kaum Muslimin menguasai dan mengendalikan media massa. Maka, pers Islam sulit mendapatkan peluang untuk berkembang, lantaran jaringan pasar dikuasai oleh mafia-mafia anti Islam. Tetapi yang terpokok dari itu adalah faktor internal, sehingga pers Islam di Indonesia sulit berkembang. Sebab yang pasti dari masalah internal itu bersumber dari ketidakjelasan Visi-Misi, segmentasi  dan manajemen (SDM) yang tidak kondusif (selain itu, di era Orde Baru peluang umat Islam untuk menerbitkan pers Islam terganjal oleh SIUPP). Padahal, kalau ditata dengan manajemen yang ihsan (baik) dan itqon (profesional), sesungguhnya media Islam sangat layak, baik dari segi gagasan maupun bisnis.

Benarkah bisnis pers Islam tak menguntungkan? Atau, dengan kata lain—lebih luas lagi—benarkah bisnis yang berbau Islam susah berkembangnya di republik ini? Marak dan pesatnya penerbitan buku-buku Islam di awal 1990-an sampai sekarang, menepis anggapan itu. Dominannya buku-buku Islam di setiap pameran besar dan ramainya pengunjung dalam pameran penerbitan Islam, membuktikan cerahnya bisnis Islam, termasuk pers Islam. Hal ini, dibuktikan lagi dengan semakin berkembangnya bisnis dengan semangat keislaman lainnya.

Tapi, lantaran buruknya manajemen atau media itu jatuh di tangan orang-orang yang tak menguasai dan punya kepentingan-kepentingan tertentu, maka media Islam yang semula tumbuh bagus, akhirnya tumbang juga. Seorang diplomat asing dari sebuah Negara yang anti Islam menyambut gembira terseok-seoknya sebuah media cetak yang semula dikenal “garang” menakutkan dan berkembang. Bagi sang diplomat, tak perlu repot-repot bagaimana caranya menggembosi media Islam itu, karena ternyata cukup dari orang dalamnya sendiri, maka media Islam yang dia maksud  dengan sendirinya akan terkubur.

Seiring dengan itu, kemunculan Ummi dan Annida (majalah Muslimah dan remaja Muslimah), dengan pasar yang jelas, mestinya mementahkan anggapan bahwa media Islam itu sulit berkembang. Ditambah lagi hasil survei ACNielsen, telah menempatkan Majalah Islam SABILI pada 5 besar dari segi keluasan pembacanya. Pada periode 2000-2001 SABILI berada di posisi 4, sedang periode 2001-2002 SABILI naik ke peringkat 3, 2002-2003 (SABILI tak diikutkan dalam survei, entah mengapa), 2003-2004 SABILI peringkat ke-2  terbanyak dibaca kaum laki-laki dan peringkat 3 secara keseluruhan.

Tapi kejayaan yang pernah diraih SABILI dan kawan-kawannya itu sekarang tinggal cerita. Masalah klasik yang sejak dulu merasuki media Islam berakibat kita belum mampu menghadirkan konglomerasi media yang disegani.

Dalam konteks bisnis pers Islam,  jika ingin sukses membangun konglomerasi—dalam arti tak hanya satu penerbitan—setidaknya ada beberapa aspek yang harus dimiliki. Pertama, Visi-Misi  (dengan komitmen dakwah yang tinggi dan keberpihakan terhadap Islam dan kaum Muslimin). Kedua, segmentasi yang jelas (dalam arti didukung basis pembaca yang luas dan segmented). Ketiga, modal yang cukup. Keempat, SDM yang andal. Kelima,  manajemen yang itqon, dalam arti amanah dan profesional. Keenam, sistem keagenan dengan jaringan khusus dan luas. Ketujuh, mendapat dukungan iklan.

Jika hal-hal di atas dapat kita kuasai, maka harapan  munculnya media Islam (group) yang kuat dan berwibawa,  bukan hal yang mustahil. Persoalannya sekarang, media Islam masih jauh dari aspek-aspek di atas. Umumnya media Islam masih terjebak keberpihakan pada golongan tertentu—sehingga membatasi segmen—dengan “manajemen warung”, dan  masih pula kurang didukung iklan.

Karena itu, tak banyak pers Islam yang mampu bertahan. Itu tadi, lantaran secara umum pers Islam tak dapat memenuhi persyaratannya sebagai pers Islam. Punya modal cukup saja tak bisa dijadikan ukuran bahwa media tersebut akan sukses, jika SDMnya payah, apalagi jauh dari nilai-nilai Islam.

Di tengah belum adanya group (konglomerasi) media yang mengusung Islam, namun banyak kaum Muslimin yang berharap munculnya televisi Islam. Harapan itu sesuatu yang sangat wajar, di tengah tayangan televisi banyak yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dipahami masyarakat Islam. Masalahnya, kita belum melihat ada konglomerat Muslim yang tertarik dengan media yang satu ini.

Di era Habibie memimpin Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), tahun 1990-an sejumlah cendekiawan dan pengusaha Muslim sempat merintis, namanya Global TV. Izin sudah di tangan.Tapi entah mengapa, Global TV yang muncul  urung mengusung nama Islam. Global TV saat itu justru tampil  full music dan kemudian bekerjasama dengan MTV. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji”uun….

Melalui kolom ini, kita berharap lembaga-institusi, tokoh dan pengusaha Muslim, saling bersinergi untuk mengambil langkah nyata, segera melakukan action, merintis kembali televisi dengan warna Islam. Kita sadar, gerak apapun yang akan dilakukan, selalu ada yang memulai.

Karenanya, kita berharap ormas atau lembaga-lembaga resmi Islam seperti MUI memelopori untuk mengumpulkan sejumlah cendekiawan dan pengusaha Muslim, agar TV Islam yang lama diharap, dapat terwujud. Kalau kita sering kecewa dan mengritik tayangan-tayangan TV yang jauh dari nilai-nilai Islam, maka kita harus menghadirkan alternatif yang sesuai dengan harapan kita.

Ironi Global TV

Kasus Global TV terungkap melalui surat mantan Mensesneg Muladi bernomor  B-602/M.Setneg/9/1999 bertanggal 13 September 1999. Ironi Global TV punya arti sendiri bagi umat.

Ceritanya pada tahun 1990-an, ‘TV Islam’ pernah dirintis, bahkan telah mengantongi izin. Sayangnya, tak ada follow up yang baik. Peluang itu pun hilang.

Belasan tahun lalu, di era Orba, Departemen Penerangan, mengeluarkan izin beberapa stasiun televisi swasta, termasuk Global TV, yang diharapkan dapat menampilkan nuansa Islam. Harapan akan kehadiran ‘TV Islam’ pun kembali bersemi. Ini tak berlebihan, mengingat umat Islam di republik ini adalah mayoritas. Kita pun bergembira. Berharap Global TV menjadi penyeimbang atas  tayangan-tayangan yang selama ini kurang mendidik.

Lagi-lagi kita menelan pil pahit.  Harapan tinggallah harapan. Global TV versi Islam gagal tayang, karena persoalan klasik: dana. Lebih dari itu, tak adanya trust (kepercayaan) dari investor.

Mengapa investor tak berminat? Bukan hanya pendana dalam negeri yang enggan, investor dari Timur Tengah pun urung menanamkan dananya. Itu terjadi karena sulitnya membangun kepercayaan (trust building) berbanding lurus dengan susahnya mencari dana dari pihak-pihak yang berduit. Sayangnya, hal ini dari dulu hingga sekarang tak pernah disadari dan diperbaiki. Mengapa? Sebab, orang-orang yang memainkan ‘kartu’ adalah para petualang (avonturir) yang tak berpihak pada kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Susah mengharapkan tsiqah (kepercayaan) dari orang-orang yang reputasinya tentang keumatan dan keberpihakannya pada Islam tak pernah teruji.

Umat ini mempertanyakan keseriusan dan tanggung jawab para tokoh yang dulu pernah mengantongi izin Global TV. Di bawah bendera The International Islamic Forum for Science Technology and Human Resources Development (IIFTIHAR), Global TV sejak awal dimaksudkan  sebagai televisi dengan syiar Islam, selain pendidikan, teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Jika kemudian Global TV menayangkan program yang tak sesuai dengan Visi-Misi semula, maka para tokoh yang membidani televisi tersebut harus menjelaskannya pada umat, mengapa hal itu sampai terjadi? Apa kendalanya, sehingga dana untuk sebuah televisi yang bernuansa Islam—yang sesungguhnya jadi dambaan kita semua—tak mengucur? Mengapa saat itu tak ada transparansi kepada publik (umat), agar persoalan dana dapat diselesaikan oleh umat Islam sendiri?

Beberapa tahun lalu muncul gugatan  terhadap isi siaran dan alih kepemilikan izin Global TV. Atas gugatan itu manajemen Global TV menyampaikan klarifikasi. Klarifikasi itu menegaskan bahwa tak ada pengalihan kepemilikan izin Global TV, maupun perubahan isi siaran.

Padahal dalam konteks ini, adalah sesuatu yang sudah kerap terjadi di republik ini: “jual-beli” izin. Di era Orde Baru, bukan rahasia lagi, yang namanya SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) diperjualbelikan. Caranya, sang pembeli (investor baru) masuk ke perusahaan penerbitan pers tersebut lalu mengucurkan dana. Kepemilikan saham pun berubah.

Karena ada peraturan yang sangat ketat, tak mudah mengganti pemimpin umum, pemimpin perusahaan dan pemimpin redaksi, maka ketentuan ini pun diakali. Biasanya nama-nama lama masih dipajang, meski realitanya sudah tak aktif lagi. Nama-nama pengelola baru pun dicantumkan dengan sebutan, misalnya, “pemimpin pelaksana redaksi” (untuk pemred), “pemimpin harian perusahaan” (untuk pemimpin perusahaan), dan sejenisnya.

Dalam kasus Global TV, memang betul, izin prinsipnya pun tak berubah, masih tetap PT Global Informasi Bermutu (GIB). Tapi, orang-orangnya berubah, kepemilikan sahamnya pun berganti. Meski namanya bukan “jual-beli”, tapi dengan berubahnya kepemilikan saham, apa lagi istilah yang tepat untuk kasus ini?

Waktu itu anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho Sekundatmo menyebut kasus perpindahan kepemilikan saham PT Global Indonesia Bermutu atas Global TV sebagai penyiasatan hukum. Menurutnya, transaksi ini harus diselidiki, apakah saat Bimantara membeli 70% saham  GIB waktu itu ada nilai asetnya. Jika tak ada asetnya, berarti sama dengan jual beli izin.

“Ini penyiasatan hukum. Ini namanya membeli tali dapat kerbau, karena sebenarnya yang diincar kerbau. Tapi karena kerbau tidak bisa dipindahtangankan, maka yang dibeli tali. Dicari, bagaimana caranya agar kerbau bisa dibawa,” kata Bimo kala itu. Ia melanjutkan, jika nilai aset terbesar adalah frekuensi, sementara aset lain tak ada nilainya, maka UU Telekomunikasi harus ditegakkan. “Ini namanya telah terjadi penyelundupan hukum yang mengakibatkan pindah tangannya frekuensi,” ujarnya.

Apapun ceritanya, mestinya saat itu “akal-akalan” ini harus diusut dan dipertanggungjawabkan ke hadapan publik. Apalagi melihat dampaknya, dimana dengan mudah harapan Global TV sebagai televisi Islam pupus bahkan berganti menjadi siaran yang jauh dari nilai-nilai Islam. Lucunya, Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) seperti berkelit. Usulan pencabutan terhadap izin Global TV—karena dinilai disalahgunakan—menurut Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Depkominfo Gde Widyatnyana Merati saat itu, harus melalui putusan pengadilan. Padahal, tinggal diusut. Jika benar tayangannya selama ini menyalahi izin semula, semestinya tinggal dicabut. Apa susahnya.

Jika ada penyimpangan dalam pemberian izin frekuensi Global TV, menurut Ade Armando dari KPI, maka frekuensi tersebut harus dikembalikan pada negara. Lalu negara menawarkannya kembali pada publik. Dalam hal ini, kita berharap, izin prinsip dan frekuensi Global TV, dikembalikan kepada umat Islam. Karena, sejatinya ia adalah milik dan aset umat yang pernah diusung melalui IIFTIHAR.

Kaum Muslimin harus menjadikan pelajaran pahit ini tidak terulang lagi. Kesungguhan dan tanggung jawab terhadap umat dalam menghadirkan TV Islam semestinya tidak dimainkan apalagi hanya untuk kepentingan sesaat.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-Ankabuut: 69).

Salman Salmon

Sumber: http://salam-online.com/2012/06/cerita-tentang-media-tanpa-nilai-ironi-global-tv-dan-terkuburnya-pers-islam.html

Trade Not Aid

Baru-baru ini team dari Sahabat Al Aqsha (www.sahabatalaqsha.com) mendapatkan ijin memasuki Gaza dan tinggal sekitar satu bulan di sana. Seluruh perjalanan ini didokumentasikan dalam sebuah film dokumenter yang sebagian penggalan-penggalannya sudah bisa disaksikan di Hijrah.TV, film lengkapnya saat ini sedang tahap finalisasi. Ada pelajaran yang sangat berharga dari saudara-saudara kita yang bertahun-tahun diboikot, dibom, diintimidasi dan didzolimi Israel ini yang saya ingin share di situs ini. Pelajaran untuk menjaga izzah atau harga diri dari umat ini.

Dalam segala keterbatasannya, mereka yang di Gaza baik yang dewasa ataupun yang anak-anak dapat menjaga diri dari meminta-minta. Bahkan ketika sumbangan itu disampaikan ke mereka tanpa diminta, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa membalasnya.

Izzah ini yang nampaknya hilang dari kita yang hidup di negeri subur—ijo royo-royo nan damai ini. Sedikit saja kita kena musibah, segala bentuk permintaan sumbangan memenuhi jalan raya. Para pemudanya yang gagah-gagah —mengatas namakan mahasiswa— dengan berseragam kampusnya masing-masing (entah kampus mana), bergerombol di perempatan-perempatan jalan meminta sumbangan.

Bahkan untuk memperbaiki pagar masjid, menambal jalan yang berlubang, dan apa saja hal-hal kecil bisa menjadi alasan untuk berdirinya sekelompok orang di tengah jalan meminta sumbangan. Di mana izzah kita ? di mana harga diri umat di negeri ini ?

Belajar dari saudara kita di Gaza yang mereka enggan untuk dibantu (Aid) tetapi ingin diajak berdagang (Trade) ini muncullah gerakan Trade not Aid yang diprakarsai oleh berbagai kalangan yang peduli Palestina dari berbagai negara.

Karena tanpa mereka minta, kita tetap ingin bisa membantu saudara-saudara kita yang terdholimi tersebut —dengan cara yang lebih elegant, maka kita di sini juga akan mulai merintis penggalangan dana yang lebih kreatif— untuk kebutuhan apapun.

Salah satu yang sudah kita mulai lakukan dan Anda semua dapat terlibat adalah meng-initiasi perdagangan yang seluruh keuntungannya disumbangkan untuk saudara-saudara kita di Palestina dan khususnya Gaza. Anda dapat lihat sekarang di salah satu situs e-commerce yang sudah kami aktifkan di www.altijaara.com.

Produk-produk kerajinan yang ada di sini adalah karya ibu-ibu dan remaja putri di komplek perumahan di mana kami tinggal. Mereka ingin membantu saudara-saudara kita di Gaza—tetapi bukan dengan uang suami atau Bapak mereka, mereka ingin membantu dengan karyanya.

Seluruh keuntungan dari penjualan bros-bros cantik tersebut akan disumbangkan ke Palestina khususnya Gaza melalui Sahabat Al Aqsha yang memang sudah secara langsung merintis banyak hal di sana. Ada sekolah TK yang 100% pendanaannya dari kaum muslimin Indonesia untuk Gaza, ada sumur-sumur air yang amat sangat mereka butuhkan dlsb-dlsb.

Menyumbang dengan cara ini insyaallah juga akan mendatangkan manfaat lain, yaitu terbangunnya keterampilan untuk berkarya dan terbangunnya kemampuan untuk berdagang.

Ketika mereka —para ibu-ibu dan remaja putri— ini sudah pada mulai pinter berkarya dan berdagang, maka mereka-pun bisa aktif berdagang untuk produk-produk lain menggunakan teknologi e-commerce yang juga kami fasilitasi. Selain www.altijaara.com, juga sudah kami aktifkan www.grosay.com untuk memfasilitasi perdagangan grosir untuk berbagai produk dan juga www.e-bimbel.com untuk retail maupun grosir buku-buku sekolah.

Dampak yang ingin kita capai dengan seluruh initiative ini adalah terbangunnya keterampilan untuk berproduksi dan sekaligus keterampilan berdagang, sehingga kita terbebas dari budaya menengadahkan tangan dalam situasai apapun untuk tujuan apapun. Menengadahkan tangan hanya kepada Allah Yang Maha Kaya bukan kepada sesama manusia yang fakir.

Bagaimana Anda bisa terlibat dalam program ini ? Banyak sekali caranya. Dengan Anda membeli produk-produk yang ada di situs-situs tersebut baik retailnya maupun grosirnya, insyaallah Anda sudah terlibat dalam kegiatan Trade not Aid ini.

Lebih jauh Anda bisa berbuat yang sama, misalnya mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak putri di sekitar Anda. Kemudian diajari keterampilan dan hasil keuntungannya disumbangkan, bisa ke Gaza atau ke siapapun yang membutuhkannya. Bisa saja ke masjid sekitar Anda yang lagi merenovasi pagarnya misalnya—agar mereka tidak kehilangan izzah-nya dengan menengadahkan tangan di tengah jalan.

Untuk keterampilan seperti membuat bros tersebut di atas misalnya, ibu-ibu di komplek kami akan dengan senang hati mengajarkan ke siapa saja dari A sampai Z-nya. Mulai dari membuat bahannya sampai membuat kerajinannya yang indah-indah, semua bisa diajarkan.

Yang lebih jauh lagi bisa kita lakukan adalah membantu menjualkan karya kerajinan ataupun karya lain dari saudara-saudara kita di Palestina. Bersamaan dengan pemutaran perdana film dokumenter tentang Gaza tersebut diatas, insyaAllah kami akan lelang karya-karya indah dari para perajin di Gaza—hasilnya semuanya akan dikembalikan ke mereka.

Dengan mengenal produk-produk mereka, barangkali kita bisa membantu dengan cara yang mereka sendiri senang menerimanya—yaitu melalui perdagangan (trade) bukan bantuan (aid). Dengan mengenal produk-produk mereka melalui lelang yang akan datang, barangkali di antara Anda ada yang mempunyai ide untuk memasarkannya.

Bila Anda tertarik untuk program ini, silahkan menghubungi team kami di sales@grosay.com atau sales@altijaara.com atau bisa juga ke saya langsung Iqbal@geraidinar.com atau melalui kontak menu di situs ini. Semoga initiative perdagangan ini bisa bener-bener menjadi altijaaratan lantabur—perdagangan yang tidak pernah merugi. Amin.

Sumber: geraidinar.com

Work Smart & Work Hard

Waktu saya mulai bekerja 25 tahun lalu, pimpinan perusahaan tempat saya bekerja mengajarkan konsep work smart—kerja secara cerdas. Dia tidak suka kerja lembur dan tidak suka pula bila ada karyawannya yang kerja sampai larut. Menurut dia hanya ada dua kemungkinan ketika orang harus secara rutin bekerja sampai larut, yaitu dia tidak capable untuk menyelesaikan tugas-tugasnya atau beban kerjanya yang terlalu tinggi. Keduanya menunjukkan ada sesuatu yang bermasalah, yang pertama masalah di dirinya sendiri dan yang kedua adalah masalah kemampuan manajemen dari atasannya.

Dari perusahaan pertama tersebut saya pindah ke perusahaan asing dimana banyak sekali expatriate dari berbagai negara. Ternyata tidak seperti yang kita umumnya duga, tidak semua expatriate tersebut pinter. Budaya yang dikembangkan di perusahaan tesebut adalah work hard, mereka terbiasa bekerja sampai larut—dan bahkan pucuk pimpinannya yang workaholic bekerja di hari libur.

Waktu bekerja sebagai karyawan tentu mayoritas kita akan lebih suka di perusahaan yang model pertama. Tetapi ternyata ketika terjun berusaha sendiri, keduanya memang diperlukan. Apalagi di era teknologi informasi yang semuanya bergerak cepat, nampaknya kita memang perlu work smart dan work hard untuk minimal bisa survive.

Mengapa work smart saja tidak cukup ? Skenarionya kurang lebih begini, saya misalnya bisa mengatur seluruh pekerjaan saya sehingga terdelegasikan dengan rapi ke team-team pelaksana dan penanggng jawabnya masing-masing di lapangan. Satu-satunya pekerjaan saya yang belum bisa didelegasikan adalah menulis artikel seperti ini. Untuk setiap tulisan seperti ini diperlukan riset satu-dua jam dan menulisnya dalam satu jam, jadi dengan tiga jam pekerjaan saya semua roda usaha saya insya Allah berputar. Tetapi apakah ini cukup ? saya gunakan apa sisa waktu saya setiap hari ?

Realitanya saya bekerja dua kali lebih panjang dari kebanyakan pegawai dan bahkan bekerja di hari libur dlsb. Seperti yang tertulis dalam puisi “Karena Aku Seorang Pengusaha”. Apakah ini karena kita merasa tidak cukup sehingga pingin terus bekerja keras mencari harta ? tidak demikian. Lebih seringnya adalah karena kita melihat peluang-peluang untuk dieksplorasi, melihat masalah-masalah untuk diatasi dan melihat ide-ide untuk ditindak lanjuti.

Mengapa work hard saja juga tidak cukup ? Saya ambilkan contohnya adalah apa yang dilakukan oleh para petani di sentra produksi pangan nasional Indonesia yang lagi jadi objek pengamaatan dan peluang pengembangan kita akhir-akhir ini. Para petani tersebut banyak yang bekerja dari habis subuh sampai menjelang magrib, bahkan tidak jarang dari mereka yang malam-malam—pun ke sawah. Tetapi apa yang mereka hasilkan ? hasil panenan mereka turun tinggal separuhnya dibandingkan dengan puncak kejayaan mereka tahun 80-an.

Jadi meskipun awalnya berbeda, akhirnya menjadi sama. Saya yang ingin menerapkan konsep work smart yang diajarkan bos pertama saya dahulu, ternyata harus work hard juga. Sebaliknya para petani yang sudah terbiasa work hard, kini nampaknya mereka harus mulai dijari untuk bisa work smart juga.

Akhir pekan ini bersama dengan sekitar 20-an pentolan para petani, kami akan mulai exercise menambahkan unsur work smart pada kebiasaan work hard mereka. Kita akan mulai ajak mereka berfikir, mengapa hasil panenan tahun-tahun ini tinggal separuh ketimbang tiga dasawarsa lalu. Apa penyebabnya, apa solusinya, apa yang bisa dilakukan dlsb.

Banyak wisdom di dunia pertanian yang orang-orang dahulu melakukan—yang kini tidak dilakukan lagi, bisa jadi ini salah satu penyebabnya. Pupuk-pupuk, insektisida dan pestisida yang dicurahkan ke lahan-lahan pertanian kita dalam tiga dasawarsa terakhir—bisa jadi ini pula penyebabnya. Pendek kata para petani yang kini banyak sudah turun ke generasi kedua yang terdidik, kita rangsang untuk berfikir dan mencoba.

Dahulu waktu belajar pertanian kita mengenal tiga bersaudara misalnya, yaitu jagung, waluh dan kacang panjang. Jagung ditanam dahulu sampai ketika dia mencapai ketinggian sejengkal, diikuti kacang panjang dan waluh di sekitarnya.

Jagung yang tumbuh lebih dahulu menjadi rambatan bagi kacang panjang yang tumbuh berikutnya, kacang panjang menghasilkan nitrogen yang dibutuhkan oleh jagung dan waluh. Waluh menutupi tanah dan menjadi mulsa alami, mencegah penguapan air tanah, mencegah tumbuhnya gulma dan menjaga suhu tanah.

Jagung bila berdiri sendiri kurang cocok untuk makanan pokok (seperti dahulu kita biasa makan sego/nasi jagung) karena dia kurang dalam hal amino acids lysine dan trypthophan yang dibutuhkan tubuh manusia untuk menghasilkan protein dan niacin. Tetapi kekurangan ini dapat dipenuhi dengan mudah oleh biji-biji kacang panjang, sehingga bila keduanya digabung bisa menjadi makanan yang seimbang.

Integrasi sejumlah tanaman yang saling menunjang atau bahkan juga dengan ternak, unggas, ikan dlsb. Kini seharusnya lebih memungkinkan dilakukan karena sumber informasi yang nyaris tanpa batas. Bahkan kini simulasi-simulasi dengan computer bisa memberikan kombinasi yang paling optimal untuk daerah tertentu dengan iklim tertentu dan sumber alam tertentu.

Bukan hanya dalam hal pertanian kita perlu menginjeksi work smart kedalam work hard dan sebaliknya work hard ke dalam work smart. Di era informasi intensif seperti sekarang, ilmu mudah diperoleh oleh siapapun—tetapi skills untuk bisa menerapkannya yang akan membedakan yang survive dengan yang tidak—dan ini menuntut work hard di lapangan.

Sebaliknya juga demikian, di negeri yang penduduknya sudah mendekati ¼ milyar ini, work hard saja hanya akan menjadikan kita buruh di negeri sendiri. Work smart-lah yang akan membuat kita memahami masalah, mengatasinya dan menangkap peluang yang hadir bersamanya. Fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra. Insya Allah.

sumber: geraidinar.com

BIAR ALLAH SAJA YANG MEMBALASNYA?

BIAR ALLAH SAJA YANG MEMBALASNYA?

Oleh: Jum'an

Sebagai umat Islam saya yakin akan ke-mahakuasa-an Allah dan Dia melihat perbuatan kita sehari-hari. Dan Dia menghendaki kita untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran, amar ma'ruf nahi mungkar. Dalam kehidupan sehar-hari bila merasa dizalimi oleh orang lain, kita sering berkata "Biar saja! Nanti kan Allah yang akan membalasnya" sebagai pertanda iman kita kepada Nya. Kadang-kadang kita menghukum anak-anak atas kesalahan mereka; juga sebagai bukti iman serta amar ma'ruf dan nahi mungkar kita. Tetapi benarkah itu merupakan manifestasi iman? Ataukah kata-kata "biar nanti Allah yang akan membalasnya" merupakan dalih atas ke tidakmampuan kita untuk meluruskan kesalahan orang lain? Dan menghukum anak kita lakukan hanya karena mudah; sebab anak ada dibawah kekuasaan kita dan tidak akan berani melawan bila kita hukum. Dengan kata lain dalam keimanan, manusia masih mengincar peluang untuk mengelak. Urusan yang mudah, bolehlah kita yang melaksanakan tetapi urusan yang sulit kita tunggu biar Allah saja yang menyelesaikannya.

Mencegah dan menghukum orang yang bersalah tidaklah mudah dan murah tetapi memerlukan pengorbanan dan biaya. Bila seorang teman kita melecehkan teman kita yang lain, sebagai sahabat seharusnya kita menghentikan atau menjauhi si pengganggu tadi. Tetapi risikonya, persahabatan kita rusak atau ia balik melecehkan kita. Bila kita sebagai konsumen ingin menghukum produsen yang curang, kita harus membeli dari produsen lain, yang harus kita teliti lebih dulu dan serba merepotkan. Mengadili dan memenjarakan orang yang bersalah juga tidak murah. Apalagi bila dihitung untuk satu Negara. Jadi mengamalkan iman itu ber-risiko dan membutuhkan biaya. Kesanggupan untuk menanggung risiko dan memikul biaya akan membuktikan iman seseorang itu "berisi" atau sekedar kerangka saja.

Dalam situs harian Huffington Post baru-baru ini dimuat hasil penelitian Kristin Laurin dari Universitas Waterloo Kanada tentang seberapa jauh seseorang bersedia mengeluarkan uang tunai untuk suatu kesempatan menghukum orang yang bersalah. Penelitian menyimpulkan bahwa orang yang percaya adanya Tuhan yang maha kuasa dan maha melihat (singkatnya orang yang beriman, dalam kasus penelitian ini nasrani) ketika mereka diingatkan akan keyakinannya itu, mereka cenderung untuk tidak menghukum orang yang bersalah. Seolah-olah bahwa menghukum orang yang bersalah adalah tanggung jawab Tuhan yang maha kuasa, bukan tanggung jawab manusia.

Namun, para peneliti juga menemukan bahwa keyakinan agama pada umumnya membuat orang lebih menginginkan agar para pelanggar hukum diadili dan dihukum untuk melindungi masyarakat dari kejahatan dan penipuan. Tetapi kemudian kepercayaan terhadap Tuhan yang maha kuasa dan maha pengampun dianggap sebagai peluang untuk secara perorangan melepaskan tanggung jawab, dan memilih untuk tidak memikul biaya dan menaggung risiko.

Menghukum orang yang bersalah adalah hasrat manusiawi. Bahkan menurut penelitian, bayi yang berusia 8 bulan lebih suka melihat yang salah untuk dihukum.

Kisah Cinta Istri Para Syuhada'

"Akupun mengira, seandainya aku menikah dengan semua laki-laki yang ada di bumi ini, niscaya mereka akan terbunuh sebagai syuhada." (Atikah binti 'Amar)

Ketika cinta memanggilmu, maka datangilah ia meski jalan terjal berliku. Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang-pedang terhunus siap menyambarmu. Sentuhlah cinta itu dengan tangan keabadian, karena cinta adalah satu-satunya rasa yang jika mendatangimu, maka engkau tak akan mampu membendung gelombangnya. Dan jika ia meninggalkanmu maka engkau tak pernah bisa memintanya untuk kembali.

Atikah binti 'Amr bin Nufail, seorang wanita terhormat, taat beragama, termasuk salah satu wanita tercantik di kalangan masyarakat Quraisy. Datang kepadanya seorang laki-laki yang sangat tampan, terhormat, dari keluarga yang taat beragama juga. Namanya Abdurrahman, putera Abu Bakar ash-Shiddiq. Merekapun akhirnya menikah.

Setelah mereka hidup bersama mengarungi biduk rumah tangga, Abu Bakar melihat bahwa puteranya terlalu larut dalam cinta istrinya. Abdurrahman sangat mencintai Atikah, begitu juga dengan Atikah. Melihat hal itu, Abu Bakar mengkhawatirkan anaknya. Ia takut jika cinta yang berlebihan itu merusak agamanya.

Suatu hari Abu Bakar menemui puteranya di kamar. "Wahai anakku, aku melihat sepertinya cintamu pada istrimu telah melemahkan logika berpikirmu, karena itu ceraikanlah istrimu!" kata Abu Bakar pada anaknya.

"Aku tak bisa melakukan itu, ayah!" jawab Abdurrahman sedih.

"Aku telah bersumpah atasmu untuk kamu ceraikan ia!" pinta Abu Bakar ash-Shiddiq.

Pemuda tampan itu bingung, di satu sisi hatinya sudah sangat mencintai istrinya dan sulit untuk berpisah dengannya, tapi di sisi lain ia tidak bisa membantah permintaan ayahnya. Abdurrahman memang sudah dikenal dengan anak yang sangat patuh pada orang tuanya, maka iapun memenuhi permintaan sang ayah untuk menceraikan istrinya.

Meski demikian, Abdurrahman tidak bisa mendustai hatinya yang sudah benar-benar cinta pada Atikah. Pasca perceraian, bayang-bayang Atikah tak mampu ia usir dari lamunannya. Ruang kosong di hatinya yang dulu diisi dengan cinta Atikah kini kembali kosong lagi. Kesedihan yang memuncak membuat putera sahabat dekat Rasulullah Saw itu meninggalkan makan dan minum. Lezatnya makanan dan segarnya minuman menjadi hambar untuk hati yang dirundung nestapa. Sampai-sampai ada orang yang berkata pada Abu Bakar: "Kamu telah menghancurkan anakmu!"

Suatu saat Abu Bakar melihat buah hatinya sedang berbaring di bawah terik matahari. Tatapan matanya kosong, pikirnya mengkhayal jauh, dan dari mulutnya keluar bait-bait syair yang menyuarakan jeritan jiwanya.

Demi Allah, aku tak akan melupakanmu, Atikah, selama mentari masih terbit...

Dan selama burung merpati itu masih mendekur...

Tak pernah kutemui orang bodoh sepertiku yang menceraikan wanita sepertinya...

Dan tak pernah kutemui wanita sepertinya yang dicerai tanpa dosa...

Akhlaknya terpuji, agamanya bagus...

Perangainya lurus dalam menjaga malu dan bertutur kata...

Tak kuasa Abu Bakar mendengar bait-bait syair anaknya. Hatinya luluh dan iapun segera menemui anaknya.

"Wahai anakku, rujuklah dengannya!" pinta ash-Shiddiq pada buah hatinya.

Abdurrahman pun rujuk dengan Atikah. Kini ruang kosong dalam hatinya kembali terisi dengan cinta wanita yang dicintainya. Bahtera rumah tangga merekapun kembali melaju siap untuk berlayar.

Pada tahun 8 H, setelah penaklukan kota Makkah, Rasulullah Saw keluar bersama pasukan Islam ke Thaif untuk memerangi orang-orang Hawazin dan Tsaqif yang melarikan diri saat perang Hunain ke sana. Abdurrahman ikut serta dalam pasukan itu. Ketika perang berkecamuk, dimana musuh bertahan di benteng yang kuat, sebuah anak panah mengenai tubuh Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq, sehingga ia gugur sebagai syuhada'.

Atikah sangat terpukul saat mendengar berita tentang syahidnya sang suami. Bait-bait syair yang keluar dari lisannya menggambarkan dengan jelas bagaimana perasaannya ketika itu.

Aku berjanji pada diriku untuk selamanya bersedih karena kehilanganmu...

Dan selamanya akan kubiarkan debu-debu menempel di kulitku...

Seumur hidup aku belum pernah mendapati seorang pemuda sepertinya...

Seorang pemuda yang pemberani, tangguh dan penyabar...

Jika perang telah dimulai maka ia akan menghajar musuh...

Dan tidak meninggalkan perang sampai tombaknya berlumuran darah...

Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia menikahi Atikah binti 'Amr. Walimah pun diadakan cukup meriah. Semua tamu menghadiri acara itu. Sejak saat itulah Atikah hidup menjalani biduk rumah tangganya yang baru bersama Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Hal itu berlangsung sampai akhirnya Umar bin Khattab meninggal sebagai syuhada' lantaran tikaman belati Abu Lu'luah al-Majusi. Kabar kematian suami keduanya itu kembali mengguncang jiwanya. Ia merasakan kesedihan yang mendalam.

Setelah itu, datanglah Zubair bin 'Awwam melamar Atikah. Keduanya pun akhirnya menikah. Zubair bin 'Awwam adalah seorang lelaki pencemburu. Sebagaimana biasanya, Atikah keluar ke masjid bersama wanita-wanita lainnya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Sebenarnya Zubair keberatan jika Atikah keluar sekalipun ke masjid. Tapi dirinya tak mampu melarangnya lantaran Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kalian melarang para wanita yang hendak ke masjid!"

Sampai pada akhirnya suatu malam, Zubair bersembunyi di sebuah tempat yang biasa di lalui oleh Atikah di masjid. Tapi Atikah tidak mengetahui hal itu. Saat Atikah lewat, Zubair menepuk pantat Atikah dengan cepat lalu pergi. Atikah tidak tahu siapa yang telah melakukan hal itu padanya. Sejak saat itulah ia tidak mau ke luar ke masjid. Lalu Zubair bin 'Awwam bertanya kepadanya: "Kenapa kamu tidak keluar ke masjid, Atikah?"

"Dulu kami (wanita) keluar ke masjid ketika manusia masih memiliki jiwa kemanusiaannya, dan tidak ada penyakit dalam diri dan hati mereka. Adapun sekarang tidak begitu, karena itulah aku tidak keluar." jawab Atikah dengan mantap.

Memang benar, bukan laut jika airnya tak berombak. Bukanlah badai jika tidak mampu menggoyahkan pepohonan. Bukan cinta jika perasaan tak pernah terluka. Dan bukan kekasih namanya jika hatinya tak pernah merindu dan cemburu. Dan itulah yang dirasakan Zubair bin 'Awwam saat itu kepada istrinya, Atikah.

Bahtera rumah tangga yang dilaluinya bersama Zubair bin 'Awwam ternyata tidak berlangsung lama. Hingga pada suatu saat Zubair terbunuh di tangan 'Amr bin Jarmuz di lembah Siba'. 'Amr bin Jarmuz menikamnya saat ia sedang tidur di sana.

Tiga lelaki yang menikahinya semuanya mati terbunuh sebagai syuhada'. Mulai dari Abdurrahman bin Abu Bakar, Umar bin Khattab sampai Zubair bin 'Awwam. Semua terbunuh. Lalu datanglah Muhammad bin Abu Bakar menikahinya. Dia adalah lelaki keempat yang menikah dengannya. Namun sungguh sayang, Muhammad bin Abu Bakar terbunuh saat melarikan diri dari kejaran tentara Yazid bin Mu'awiyah dari Daulah Umawiyah ke Mesir. Di sana Muhammad bin Abu Bakar terbunuh.

Genap sudah empat lelaki yang telah menikah dengannya. Semuanya gugur di medan jihad sebagai syuhada'. Karena itulah Atikah mendapat julukan "Zaujusy Syuhada'" (istri para syuhada').

Baru pada saat itu lisannya mengucap beberapa patah kata: "Setelah ini aku tak akan menikah selamanya. Aku mengira, seandainya aku menikah dengan semua laki-laki yang ada di bumi ini, niscaya mereka akan terbunuh sebagai syuhada."

Sumber: cahayasiroh.com

Jerusalem (Israel) menjadi pusat gerakan kaum gay & lesbian.

Jerusalem Open House yang didirikan tahun 1997 kini menjadi tempat pusat gerakan kaum  lesbian, gay, bisexsual dan transgender (LGBT.) dan menjadi organisasi utama untuk pelayanan dan advokasi kaum LGBT di Timur tengah.

Berbagai kegiatan rutin diadakan disana untuk mendukung kegiatan LGBT baik di wilayah timur tengah maupun internasional :

Irshad manji juga tentu tidak mau ketinggalan kongkow disana :

https://www.irshadmanji.com/sites/default/files/art/jerusalem-open-house.jpg
(irshad manji dalam acara Jerusalem open house bersama sahabatnya yang diklaimnya kaum gay and lesbidari palestina)