Showing posts with label ihsantandjung. Show all posts
Showing posts with label ihsantandjung. Show all posts

Bagaimana Lagi Jika Al-Masih Ad-Dajjal Yang Datang?

Oleh Ihsan Tandjung

Sungguh kita benar-benar sedang menjalani era penuh fitnah di Akhir Zaman. Bayangkan! Baru menghadapi seorang tokoh lesbi dari Kanada keturunan Gujarat campur Mesir —yaitu Irshad Manji— sebagian orang yang mengaku muslim di negeri ini sudah tersihir sehingga terpukau dan membela habis-habisan tokoh lesbi tersebut agar yang bersangkutan diizinkan mengadakan diskusi bebas. Diskusi mana isinya adalah menggugat kebenaran sikap Nabi Luth ‘alahissalam yang membenci perilaku liwath (hubungan sex sejenis kelamin) kaumnya. Mereka menuduh Nabi Luth as menentang gaya hidup homosex karena sebenarnya kecewa dan berputus-asa ketika kedua anak puteri beliau “tidak laku” untuk dinikahkan dengan lelaki dari kaumnya yang sudah mabuk gaya hidup homosexual. SubhaanAllah...!

Mereka mengatakan bahwa sikap seperti itu adalah sikap diskriminatif terhadap komunitas LG (lesbian dan gay). Hendaknya eksistensi komunitas LG diakui sebagai konsekuensi negara dan bangsa Indonesia telah menerima prinsip freedom of speech (kebebasan berpendapat), demokrasi dan HAM (Hak Asasi Manusia) menurut standar internasional (baca: standar Sistem Dajjal). Kebebasan yang mereka kehendaki adalah kebebasan mutlak-tanpa batas termasuk bebas untuk menggugat Allah SWT dan mengkritisi Kitabullah Al-Qur’anul Karim.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf [7] : 80-81)

Mereka ingin mengatakan bahwa Nabi Luth adalah contoh seorang fanatik dalam beragama yang berwawasan sempit sehingga menolak kemungkinan hadirnya bentuk lain dalam hubungan sex antar manusia di tengah masyarakat. Bahkan mereka menuduh Nabi Luth dengan tuduhan yang sama persis seperti yang digunakan oleh kaum Nabi Luth dahulu kala. Mereka menuduh Nabi Luth sebagai seorang manusia yang sok suci. Demikian pula tuduhan Irshad Manji dan para pendukungnya kepada orang-orang beriman di zaman modern ini yang menentang komunitas LG.

“Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri." (QS. Al-A’raaf [7] : 83)

Kemudian hal yang serupa berulang kembali menjelang datangnya Ratu Syetan berinisial LG. Begitu banyak orang yang mengaku muslim di negeri ini tersihir sedemikian rupa sehingga begitu antusias membela habis-habisan agar LG –yang juga seorang lesbian- diizinkan menampilkan aksi erotisme, ritual syetan lengkap dengan segala asesori simbol-simbol Luciferian-nya. Perlu kita cermati pula apakah suatu kebetulan bahwa Ratu Syetan ini menggunakan nama yang inisialnya sejalan dengan filosofi yang didakwahkan oleh Irshad Manji dan kawan-kawannya, yakni gaya hidup “LG” (lesbian dan gay)...?  Sudah barang tentu bagi seorang mukmin ini tidak akan dilihat sebagai suatu hal yang kebetulan. Apalagi pada waktu yang berdekatan pemimpin negara adi-daya tunggal dunia, yaitu Barrack Obama,  mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya mendukung pernikahan satu jenis kelamin alias kaum LG. Perhatikan kutipan di bawah ini:

President Barrack Obama kembali mencalonkan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat pada Pemilu Presiden November 2012, dan dalam kampanyenya kali ini, dia menyuarakan dukungannya kepada pernikahan LGBT.

Selama dia memerintah, Presiden Obama membawa perubahan yang mendukung hak-hak LGBT. Salah satunya adalah penghapusan kebijakan “Don’t Ask Don’t Tell” dari militer Amerika Serikat. “Don’t Ask Don’t Tell” adalah kebijakan yang melarang prajurit Amerika Serikat untuk terbuka akan orientasi seksualnya.

Berikut adalah beberapa kutipan dari kampanye Presiden Obama: 

“Saya mau semua orang diperlakukan dengan adil di Negara ini (USA). Kita tidak melakukan kesalahan saat kita memberikan persamaan hak dan kewajiban kepada semua orang.

Kita berjuang bukan hanya untuk diri kita sendiri, kita berjuang juga untuk orang lain. Demikianlah cara kita memperoleh persamaan hak wanita. Demikianlah cara kita memperoleh hak pekerja. Dan demikian pula kita memperoleh hak LGBT.

Dan kalau anda siap untuk berjuang untuk Amerika yang lebih baik, yang tidak mendiskriminasikan siapa anda, Agama dan keyakinan anda, bahkan siapa yang anda cintai, saya bersama-sama dengan anda dalam setiap langkah perjuangan tersebut.”

(Sumber: http://lgbtindonesia.org/main/   Written by administrator Posted May 15, 2012 at 9:58 am)

Semua yang kita saksikan dewasa ini bukan hal mengejutkan bagi mukmin yang peduli dengan hadits-hadits Rasulullah Muhammad SAW khususnya mengenai era fitnah-fitnah di Akhir Zaman. Kemungkaran yang kian berani menampilkan kehadirannya benar-benar membuktikan bahwa dunia sudah berada di ambang hadirnya puncak fitnah alias fitnah paling dahsyat sepanjang zaman, yakni fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

"Rasulullah SAW  pernah berkhutbah: Sungguh, semenjak Allah menciptakan anak cucu Adam, tidak ada fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Ad-Dajjal, dan tidak ada satu Nabipun yang diutus Allah melainkan ia akan memperingatkan umatnya mengenai fitnah Ad-Dajjal. Sedangkan Aku adalah Nabi yang terakhir dan kamu juga ummat yang terakhir, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Ad-Dajjal akan keluar di tengah-tengah kalian.” (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Majah)

Sebelum fitnah paling dahsyat itu keluar dan tampil ke tengah umat manusia, maka masyarakat dunia akan disibukkan dengan aneka fitnah sebagai pengantar sebelum hadirnya Ad-Dajjal.  Bilamana seseorang dapat tetap istiqomah dalam iman dan tauhidnya menghadapi berbagai fitnah pra-Dajjal, maka insyaAllah iapun akan selamat menghadapi fitnah Ad-Dajjal. Demikian pula sebaliknya. Jika menghadapi fitnah-fitnah pra-Dajjal saja seseorang sudah tersihir dan terjerembab ke dalamnya, maka jangan harap ia akan sanggup untuk selamat tatkala puncak fitnah telah hadir...!!! Wa na’udzubillahi min dzaalika.

“Dan tidak ada orang yang dapat selamat dari fitnah-fitnah sebelum fitnah Ad-Dajjal melainkan ia pasti selamat pula darinya (fitnah Dajjal) sesudahnya. Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk (menjemput kehadiran) fitnah Ad-Dajjal." (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

Artinya, bila menghadapi sosok-sosok seperti Irshad Manji saja yang sudah jelas berda’wah ke jalan syetan dengan kampanye gaya hidup LG-nya, seseorang sudah mudah tersihir dan terpukau hingga membelanya, bagaimana lagi dia akan sanggup menghadapi Ad-Dajjal yang merupakan puncak fitnah alias fitnah paling dahsyat sepanjang zaman...?!? Jika kemungkaran dan kekafiran seorang Irshad Manji saja tidak mampu dideteksi seseorang, maka bagaimana lagi ia akan mampu mendeteksi kemungkaran dan kekafiran Ad-Dajjal? Padahal sihir Irshad Manji belum ada apa-apanya dibandingkan sihir yang Allah bakal izinkan untuk diperlihatkan oleh Al-Masih Ad-Dajjal....!

Artinya, bila menghadapi Ratu Syetan saja seseorang sudah dengan mudahnya tersihir dan menjadi penggemarnya sehingga rela membelanya mati-matian, lalu bagaimana lagi perilakunya kelak bila Allah sudah taqdirkan Dajjal yang datang...?!? Jika seseorang tidak sanggup mendeteksi kemungkaran, kebatilan, kekafiran dan aroma Iblis yang disebarkan oleh Ratu Syetan berinisial LG, lalu bagaimana lagi ia akan selamat menghadapi Al-Masih Ad-Dajjal yang Allah bakal izinkan untuk menipu serta menyihir kebanyakan manusia dengan segenap kemampuan supra-natural-nya....?!? Jika kekafiran dan ciri-ciri pengikut Iblis dalam berbagai konser yang ditampilkan Ratu Iblis “LG” saja, seseorang tidak sanggup melihatnya dengan mata hatinya, lalu bagaimana lagi ia bisa diharapkan mampu membaca tulisan “KAFIR” yang bakal terbaca oleh setiap mukmin ketika Ad-Dajjal sudah keluar ke tengah-tengah masyarakat dunia.....?!?

“Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, di atasnya ada kulit tebal, di antara kedua matanya tertulis: KAFIR, yang bisa dibaca oleh setiap mu`min yang bisa baca tulis ataupun buta huruf." (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

Tampaknya tesis yang dilontarkan oleh seorang muslim Inggris bernama Ahmad Thomson memang benar adanya. Dunia modern semenjak hampir seabad yang lalu, yaitu saat runtuhnya khilafah Islam terakhir tahun 1924, benar-benar telah membentuk dirinya menjadi sebuah Sistem Dajjal. Novus Ordo Seclorum alias New World Order alias Tatanan Dunia Baru tidak lain adalah sebuah sistem global yang dilandasi nilai-nilai kafir Dajjal. Segenap sendi-sendi kehidupan modern dirancang untuk mengingkari nilai-nilai Rabbani dan Nabawi ajaran Al-Islam. Sistem Dajjal sudah berdiri dan eksistensinya semakin dikokohkan.  Bilamana eksistensinya dipandang sudah mapan, maka saat itulah oknum Al-Masih Ad-Dajjal akan keluar untuk segera dinobatkan sebagai pucuk pimpinannya oleh para pendukung Sistem Dajjal tersebut. Wallahu a’lam bish-showwaab.

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta dari jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal" (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Sumber: http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/bagaimana-lagi-jika-al-masih-ad-dajjal-yang-datang.htm

Keluarnya Ad-Dajjal Dan Mengeringnya Danau Tiberias

Keluarnya Ad-Dajjal Dan Mengeringnya Danau Tiberias

Oleh Ihsan Tandjung

Bila anda membuka google dan menelusuri kata “Tiberias”, maka anda akan menemukan keterangan Wikipedia sebagai berikut:

The Sea of Galilee, also Kinneret, Lake of Gennesaret, or Lake Tiberias (Hebrew: יָם כִּנֶּרֶת ‎ Judeo-Aramic: יַמּא דטבריא, Arabic: بحيرة طبرية ‎ ), is the largestfreshwater lake in Israel, and it is approximately 53km (33mi) in circumference, about 21km (13mi) long, and 13km (8.1mi) wide. The lake has a total area of 166km2 (64sqmi), and a maximum depth of approximately 43 m (141feet).

Artinya:

Laut Galilea, juga Kinneret, Danau Genesaret, atau Danau Tiberias (Ibrani: יָם כִּנֶּרֶת Yahudi-Aramic: יַמּא דטבריא, Arab: بحيرة طبرية), adalah danau air tawar terbesar di Israel, dan ia adalah sekitar 53 km (33mil) lingkar, sekitar 21 km (13 mil) panjang, dan 13 km (8,1 mil) lebar. Danau ini memiliki luas wilayah 166 km2 (64 sq mi), dan kedalaman maksimum sekitar 43 m (141 kaki).

Air dari Danau Tiberias merupakan sumber utama air bersih bagi bangsa Yahudi dan pemerintah Zionis Israel. Dewasa ini pemerintah Israel sangat khawatir karena keberadaan air Danau Tiberias sudah kian menepis. Jika kita click http://www.savethekinneret.com/ kita akan temukan peringatan dari pemerintah Israel kepada segenap warganya sebagai berikut:

The Kinneret, Israel's major reservoir of fresh water, is drying up! Many years of below-average rainfall have led the water level to dip to the "black line," beyond which water cannot be pumped without causing severe damage to the entire water supply. Though there are plans in place to build more desalination plants, they will not be operation for several years, so it is incumbent upon us all to conserve water!

Artinya:

Danau Kinneret, waduk utama air bersih Israel kian mengering! Bertahun-tahun curah hujan di bawah rata-rata telah menyebabkan level air berada di "garis hitam," dimana air tidak bakal dapat dipompa lagi tanpa menyebabkan kerusakan parah pada pasokan air secara keseluruhan. Meskipun ada rencana untuk membangun pabrik desalinasi, ia tidak akan beroperasi selama beberapa tahun, sehingga menjadi tugas kita bersama untuk menghemat air !

Mungkin bagi sebagian orang informasi ini dianggap tidak penting bahkan tidak menjadi urusannya. Tapi bagi setiap muslim-mukmin yang peduli dengan tanda-tanda Akhir Zaman informasi ini sangat berharga dan sangat serius. Mengapa? Karena dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat kata “Danau Tiberias”. Dan hadits tersebut berkaitan erat dengan bakal keluarnya fitnah paling dahsyat sepanjang zaman, yaitu fitnah al-Masih Ad-Dajjal...!

Hadits tersebut sangat panjang. Di dalam hadits tersebut dikisahkan bagaimana seorang pelaut Arab Nasrani bernama Tamim Ad-Dari bersama 30 orang awak kapalnya terdampar di sebuah pulau. Kemudian di dalam pulau itu ia berjumpa dengan seorang lelaki yang menurutnya digambarkan sebagai ”orang terbesar yang pernah kami lihat, paling kuat dan tangannya terbelenggu di leher, antara lutut dan mata kakinya terbelenggu besi”. Lalu terjadi dialog antara Tamim Ad-Dari dengan lelaki misterius yang ternyata adalah Al-Masih Ad-Dajjal. Dialog tersebut sebagai berikut:

Ia berkata: "Beritahukan padaku tentang kurma Baisan." Kami bertanya: "Tentang apanya yang kau tanyakan?" Ia berkata: "Aku bertanya pada kalian tentang kurmanya, apakah sudah berbuah?" Kami menjawab: "Ya." Ia berkata: "Ingat, ia hampir tidak membuahkan lagi." Ia berkata: "Beritahukan padaku tentang danau Thabari (Tiberias)." Kami bertanya: "Tentang apanya yang kau tanyakan?" Ia menjawab: "Apakah ada airnya?" Mereka menjawab: "Airnya banyak." Ia berkata: "Ingat, airnya hampir akan habis." Ia berkata: "Beritahukan padaku tentang mata air Zughar." Mereka bertanya: "Tentang apanya yang kau tanyakan?" Ia berkata: "Apakah disana ada airnya dan apakah penduduknya bercocok tanam dengan air itu?" Kami menjawab: "Ya, airnya banyak dan penduduknya bercocok tanam dengan air itu." Ia berkata: "Beritahukan padaku tentang Nabi orang-orang buta huruf, bagaimana keadaannya?" Mereka menjawab: "Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib." Ia bertanya: "Apakah orang-orang arab memeranginya?" Kami menjawab: "Ya." Ia bertanya: "Apa yang mereka lakukan terhadapnya?" Lalu kami memberitahunya bahwa beliau menang atas bangsa Arab di sebelahnya dan mereka menaatinya. Ia bertanya pada mereka: "Itu sudah terjadi?" Kami menjawab: "Ya." Ia berkata: "Ingat, sesungguhnya itu baik bagi mereka untuk menaatinya. Aku akan beritahukan pada kalian siapa aku. Aku adalah Al Masih (Ad-Dajjal) dan aku sudah hampir diizinkan untuk keluar lalu aku akan keluar.” (HR. Muslim No. 5235)

Berdasarkan hadits di atas berarti Ad-Dajjal telah mengungkap kunci-kunci kejadian yang menjadi indikator kapan ia bakal diizinkan untuk keluar dan menebar fitnah-fitnahnya. Dan salah satu indikator sudah dekatnya saat Ad-Dajjal keluar ialah bilamana air Danau Tiberias telah mengering. Sedangkan saat ini jelas kondisi tersebut sudah hampir menjadi kenyataan...! Silahkan dilihat grafik level air Danau Tiberias yang kian menyurut sejak tahun 2004 hingga 2012 (Kinneret Water Levels 2004-2012). Waspadalah saudaraku, fitnah Ad-Dajjal tidak lama lagi akan segera keluar...! Siapkan diri beserta keluarga anda dengan kemantapan iman dan tauhid sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat.

Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian serta jahatnya fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Amin ya rabbal’aalamiin.

Sumber: http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/keluarnya-ad-dajjal-dan-mengeringnya-danau-tiberias.htm

Note:

Gambar grafiki: http://www.water.gov.il/SiteCollectionImages/Miflas/kineret-chart1.12.JPG, untuk data real time: http://www.savethekinneret.com/ 

Merebaknya Kebodohan Dan Kedustaan

Oleh: Ihsan Tandjung

Apabila kita memperhatikan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW mengenai berbagai fitnah yang bakal terjadi di akhir zaman, maka kita sungguh sangat khawatir, sebab isinya menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tetapi apabila kita refleksikan hadits-hadits tersebut kepada situasi dan kondisi dunia modern di mana kita berada saat ini, maka kekhawatiran kita semakin menjadi-jadi. Mengapa? Karena tidak sedikit hadits tentang fitnah-fitnah di akhir zaman yang mendeskripsikan secara tepat situasi dan kondisi dunia modern dimana kita berada saat ini...!

Sebut saja misalnya hadits di bawah ini:

"Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan." (HR. Bukhari-Shahih)

Banyak orang barangkali tidak sependapat mengatakan bahwa hadits di atas menggambarkan kondisi dunia modern. Mereka malah memandang dunia modern saat ini sebagai dunia sarat kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi. Padahal yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ialah diangkatnya ilmu dienullah (agama Islam) bukan ilmu menyangkut urusan keduniaan. Dan makna kebodohan ialah keawaman masyarakat terhadap ilmu agama. Nabi SAW tidak mengatakan bahwa era fitnah di akhir zaman akan tampil dalam bentuk kemunduran ilmu-pengetahuan dan teknologi. Untuk itu kita mendapati hadits lainnya yang memperjelas hadits di atas:

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba-hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan". (HR. Bukhari-Shahih)

Jelas hadits di atas mengarahkan perhatian kita kepada diangkatnya ilmu yang dikuasai oleh para ulama. Dan itu tentunya adalah ilmu agama. Sedemikian mengkhawatirkannya keawaman dan kebodohan masyarakat akan ilmu agama sebagai akibat diwafatkannya para ulama, sehingga Nabi SAW memprediksi akan munculnya orang-orang bodoh yang dijadikan tempat bertanya dan berfatwa. Dan ketika mereka berfatwa, maka mereka berfatwa tanpa ilmu agama. Akibatnya fatwa yang dihasilkan bersifat sesat dan menyesatkan ummat, demikian kata Rasulullah SAW...!

Dalam realita dunia modern, baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita sepasang lelaki gay mengaku Muslim yang dinikahkan oleh seorang Imam masjid yang juga gay. Beritanya sebagai berikut:

"Ludovic Mohamed Zahed, seorang pria Prancis asal Aljazair, dan pasangannya Qiyam al-Din dari Afrika Selatan, dilaporkan telah menikah sesuai dengan 'Syari'at Islam' di hadapan seorang imam (gay) asal Mauritius bernama Jamal, yang merestui mereka pada (12/2/2012), seperti yang dilansir Albawbaba pada (2/4).

Sebelumnya, keduanya telah menikah di Afrika Selatan di bawah hukum pernikahan sesama jenis di negara tersebut, yang mengizinkan pernikahan gay karena Prancis tidak mengizinkan pernikahan sesama gay.” (Arrahmah.com, Senin, 9 April 2012 09:38:05)

Imam gay asal Mauritius ini merupakan contoh seorang bodoh yang mengeluarkan fatwa sesat dan menyesatkan. Ia telah merestui jalinan hubungan homosexual yang jelas-jelas dilarang di dalam dienullah. Bahkan rasulullah SAW memperingatkan dengan sangsi keras berupa hukuman bunuh bagi pelakunya.

Nabi SAW bersabda, "Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya." (HR. Abu Dawud-Shahih)

Demikian pula kita dibuat prihatin saat mendengar adanya salah satu Lembaga Tinggi negara di negeri ini yang mengeluarkan keputusan hukum membenarkan bahwa jika anak dari hasil di luar pernikahan (baca: hasil zina) dapat dibuktikan melalui teknologi modern bahwa ia secara genetis merupakan anak seorang lelaki tertentu, maka ia berhak dinisbatkan kepada nasab keturunan lelaki tersebut dan berhak menjadi ahli-warisnya. Astaghfirullah al-‘adzhiim...!

Sedemikian merebaknya kebodohan akan ilmu agama sampai-sampai orang-orang yang dianggap memiliki ilmu agama secara formal-akademis dengan mudahnya terjebak faham sekularisme. Sebuah faham yang memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan yang mencakup politik, sosial, ekonomi dan hukum. Mereka menyetujui faham yang bersumber dari kaum kafir tersebut. Mereka membenarkan bahwa urusan agama hanya berlaku pada private sector (ruang lingkup pribadi), sedangkan untuk public sector (ruang lingkup publik) dapat diatur dengan berbagai faham, ideologi dan ajaran selain Islam. Untuk urusan politik pakai paradigma demokrasi dan praktek machiavelli, ekonomi pakai kapitalisme dan praktek ribawi, hukum pakai man-made laws (hukum produk manusia) yang tidak kunjung dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat. Para doktor, master dan sarjana agama Islam tersebut seolah membenarkan opini yang mengatakan bahwa ajaran Islam tidak cukup lengkap dan sempurna untuk menata segenap sendi kehidupan. Ajaran Islam hanya lengkap dan sempurna untuk urusan ibadah ritual-formal seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Tidak untuk urusan selain itu.

Hadits lainnya yang juga sangat tepat menggambarkan kondisi dunia modern jahiliyah saat ini ialah sebagai berikut:

"Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang amanah dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara." Lalu beliau ditanya, "Apakah Ruwaibidlah itu?" beliau menjawab, "Orang-orang bodoh yang mengurusi perkara umum." (HR. Ibnu Majah-Shahih)

Dalam dunia jahiliyah modern kita menyaksikan bagaimana orang yang memiliki karakter jujur dan amanah justeru didustakan dan dikhianati. Sebaliknya pendusta dan pengkhianat malah dibenarkan dan diberi jabatan serta diangkat menjadi pemimpin masyarakat. Orang yang justeru dengan jujur dan lantang menyuarakan pentingnya tauhid dan penegakkan hukum Allah dipandang sebagai pengacau stabilitas nasional. Sedangkan para pendusta agama Allah dan pengusung faham kafir sekularisme dan pluralisme justeru dinilai sebagai seorang yang berwawasan luas, berpandangan jauh ke depan dan mengikuti perkembangan zaman. Fihak yang mentaati Allah dalam perkara mengingkari thaghut didustakan oleh masyarakat, sedangkan mereka yang ber-musyarokah (bekerjasama dan berpartisipasi) dengan thaghut malah dibenarkan. Padahal mengingkari thaghut merupakan salah satu rukun pokok aqidah tauhid:

"Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat." (QS. Al-Baqarah [2] : 256)

Sungguh berat hidup di zaman merebaknya kebodohan dan kedustaan akan dienullah. Inilah zaman jahiliyah modern dimana fitnah-fitnah meneylimuti dunia sehingga dunia menjadi laksana sepotong malam yang gelap-gulita.

"Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang lelaki dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seorang lelaki dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual diennya (agamanya) demi memperoleh kenikmatan dunia." (HR. Muslim-Shahih)

sumber: http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/merebaknya-kebodohan-dan-kedustaan.htm

Murtad Tanpa Sadar

Oleh Ihsan Tandjung

Ada sebuah buku berjudul asli Al-Iman wa Nawaqidhuhu & At-Tibyan Syarhu Nawaqidhil Iman. Buku ini ditulis oleh duet Dr Safar Hawali & Syaikh Sulaiman Nashir Ulwan. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Etoz Publishing. Yang menariknya, penerbit menerjemahkan judul buku tersebut dengan atraktif sekaligus menghentak sanubari. Judul bahasa Indonesianya ialah Murtad Tanpa Sadar Kok Bisa?

Benar saudaraku. Ternyata di dalam hidup ini ada perkara-perkara yang jika dilakukan, bahkan sekedar diucapkan, dapat menjerumuskan seorang muslim ke dalam sebuah keadaan murtad tanpa sadar. Artinya, ia tidak sekedar terlibat dalam sembarang dosa. Tapi ia terlibat ke dalam urusan yang dapat menyebabkan batalnya keimanan serta keislamannya. Hal ini menjadi lebih serius jika kita kaitkan dengan kondisi zaman modern yang sangat sarat dengan fitnah (ujian) terhadap iman seorang muslim. Sehingga kita jadi teringat sebuah hadits di mana Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia." (HR. Ahmad, No. 8493)

Sungguh penulis khawatir bahwa kondisi dunia dewasa ini persis sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم gambarkan di dalam hadits di atas. Laksana malam yang gelap gulita. Fitnah (ujian) telah meliputi segenap aspek kehidupan modern. Dan derajat fitnah tersebut sedemikian rupa sehingga potensial menyebabkan seorang muslim sulit memelihara ke-istiqomahannya. Pagi masih dinilai Allah سبحانه و تعالى beriman, namun sore harinya telah menjadi kafir. Bayangkan...! Nabi صلى الله عليه و سلم di dalam hadits di atas tidak menggambarkan kondisi gelap gulita tersebut berakibat sekedar “di waktu pagi berbuat kebaikan dan di waktu sore berbuat kejahatan”. Sebab jika demikian penggambarannya, masih lebih ringan. Sebab betapapun seseorang melakukan kejahatan, ia masih mungkin dipandang tetap memiliki iman. Sedangkan Nabi صلى الله عليه و سلم jelas-jelas menggambarkan bahwa kegelapan akibat rangkaian fitnah tersebut berakibat “seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir”. Wa na’udzu billahi min dzaalika...!

Mari kita lihat contohnya. Sebut saja Pembatal Keislaman nomor empat dan nomor sembilan. Pembatal Keislaman nomor empat di dalam buku MTS (Murtad Tanpa Sadar) ialah “Meyakini Bahwa Selain Petunjuk Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Lebih Sempurna Daripada Petunjuknya”. Sedangkan Pembatal Keislaman nomor sembilan ialah “Meyakini Bahwa Manusia Boleh Keluar Dan Tidak Mengikuti Syariat Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم ”.

Sungguh, tidak sedikit muslim di era modern ini yang terjatuh kepada dua perkara di atas. Mereka masih menaruh harapan kepada petunjuk, panduan, isme,  ideologi, bimbingan hidup, sistem hidup atau falsafah hidup selain yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم . Lalu mereka memperlakukan berbagai petunjuk tersebut seolah setara bahkan lebih baik dan lebih sempurna daripada ajaran Al-Islam. Mereka meragukan Al-Islam sebagai pemersatu keanekaragaman ummat manusia lalu meyakini ada selain Al-Islam yang dapat memainkan peranan pemersatu tersebut. Seolah mereka mengabaikan kesempurnaan ajaran atau syariat Allah سبحانه و تعالى.  Lalu menaruh kepercayaan akan kesempurnaan ajaran atau isme lainnya. Padahal di dalam Al-Qur’an dia membaca ayat Allah سبحانه و تعالى yang berbunyi:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 3)

Salah satu faham modern yang dewasa ini secara gencar dikampanyekan oleh masyarakat Barat (baca: kaum Yahudi dan Nasrani) ialah Pluralisme. Sebagian besar penghuni planet bumi dewasa ini telah terpengaruh dan percaya kepada faham tersebut. Mereka memandangnya sebagai sebuah faham yang baik dan positif. Bahkan faham ini telah dipandang sebagai indikator kemajuan atau kemodernan seseorang atau bahkan suatu bangsa. Memang, pada tahap awal, Pluralisme mengajarkan suatu hal yang baik yaitu keharusan setiap orang agar menghormati orang lain apapun latar belakang agama dan keyakinannya. Sampai di sini kita tidak punya masalah dengan ajaran ini. Bahkan Islam-pun menganjurkan kita untuk berlaku demikian. Tetapi persoalannya, Pluralisme tidak menerima jika seseorang hanya sebatas memiliki sikap seperti itu. Ia menuntut setiap orang agar mengembangkan “sikap modern” sedemikian rupa sehingga tanpa ragu dan bimbang rela berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar.” Nah, jika seorang muslim sampai rela mengeluarkan kata-kata seperti itu, barulah ia benar-benar diakui sebagai seorang penganut Pluralisme. Barulah ia akan diberi label “muslim modern” dan “muslim moderat” oleh masyarakat dunia, khususnya masyarakat barat.

Apa masalahnya bila seorang muslim berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”? Saudaraku, ungkapan seperti itu menunjukkan bahwa yang mengucapkannya tidak setuju dengan beberapa ayat di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Padahal ketidaksetujuan seseorang akan isi Al-Qur’an menunjukkan bahwa dirinya meragukan kebenaran fihak yang telah mewahyukannya, yaitu Allah سبحانه و تعالى . Padahal tidak ada satupun firman Allah سبحانه و تعالى yang mengandung kebatilan. Subhaanallah...! Seluruh isi Al-Qur’an sepatutunya diterima oleh setiap orang yang mengaku muslim sebagai kebenaran mutlak, karena ia merupakan Kalamullah (ucapan-ucapan Allah سبحانه و تعالى). Sehingga setiap malam saat sholat tahajjud Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم selalu membaca doa yang sebagian isinya berbunyi:

“...(Ya Allah) Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janji-Mu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar dan firman-Mu benar...” (HR. Bukhari, No 1053)

Maka seorang muslim yang termakan oleh faham Pluralisme sehingga melontarkan kalimat-kalimat batil seperti di atas sungguh potensial terjangkiti virus MTS. Sebab ia sekurang-kurangnya telah menolak tiga ayat Al-Qur’an. Ia telah memandang dirinya lebih cerdas daripada Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya. Ketiga ayat tersebut ialah:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (QS. Al-Hijr [15] : 2)

Bagaimana mungkin seorang muslim yang pernah membaca ketiga ayat di atas, sambil mengaku beriman akan Al-Qur’an sebagai kumpulan firman Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya, lalu akan dengan ringannya tega melontarkan kata-kata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”?

Coba perhatikan cuplikan diskusi yang sering terjadi di sekitar kita. Ada beberapa orang sedang mendiskusikan soal perselisihan antar dua kelompok berbeda agama yang terjadi di tengah masyarakat. Yang satu kelompok kaum muslimin, sedangkan yang satu lagi kelompok kaum non-muslim. Lalu masing-masing fihak mempertahankan argumennya masing-masing. Akhirnya suasana diskusi menjadi panas dan hampir tidak terkendali. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka melontarkan sebuah upaya menenteramkan situasi dengan melontarkan kata-kata: “Sudahlah tenman-teman. Marilah kita ingat selalu bahwa kita ini kan satu bangsa. Agama boleh berbeda. Tapi kita kan tetap satu bangsa.  Toh, setiap agama kan maksudnya baik. Tujuannya mulia. Dan semuanya kan menuju tujuan yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa sih kita tidak bisa saling memahami dan bersikap toleran?”

Bukankah contoh kasus di atas merupakan suasana yang sangat sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari kita? Dan diskusi hangat dengan akhir seperti itu kian hari kian mudah kita temui belakangan ini. Kasus dan pelaku perselisihan boleh berbeda, tapi ujung akhir penyelesaiannya kurang lebih sama. Yaitu mengakui bahwa setiap agama punya maksud yang sama dan baik. Benarkah demikian? Kalaulah semua agama punya maksud dan tujuan yang sama dan baik, lalu mengapa kita harus memilih Al-Islam? Mengapa kita tidak pilih yang lainnya saja? Bukankah Islam secara praktek lebih rumit dan menuntut pengorbanan dibandingkan yang lainnya? Islam mewajibkan setiap muslim sholat beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى sekurangnya lima kali sehari-semalam. Islam mewajibkan setiap satu tahun sekali selama sebulan penuh muslim menahan rasa lapar, dahaga dan berhubungan suami-istri di siang hari. Mengapa tidak kita pilih agama lainnya yang lebih sederhana dan ringan?  Artinya, pandangan yang mengatakan bahwa semua agama bermaksud “sama dan baik” mengingkari statement Allah سبحانه و تعالى yang berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

Realitasnya dewasa ini sangat mudah kita jumpai di sekeliling kita kaum muslimin yang melontarkan kata-kata batil seperti di atas. Astaghfirullahal ‘azhiem. Allahummagh fir lil muslimin wal muslimat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum Muslimin dan Muslimat. Laa haula wa laa quwwata illa billah...!

Ya Allah, lindungilah kami dari virus penyakit murtad tanpa sadar di era modern penuh fitnah ini. Amiin. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

“Ya Allah aku berlindung kpdMu dari cobaan yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari, No. 5871)

sumber: http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/murtad-tanpa-sadar.htm