Showing posts with label jilbab. Show all posts
Showing posts with label jilbab. Show all posts

Di Cina kaum muslim dilarang berpuasa, di Jakarta Ahok larang orang suruh pakai Jilbab

Disdik DKI: Tidak Ada Sekolah Negeri di Jakarta yang Wajibkan Siswinya Berjilbab



Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) melarang sekolah negeri mewajibkan siswi beragama Islam memakai jilbab di hari tertentu. Dinas Pendidikan (Disdik) DKI menegaskan tidak ada sekolah negeri di Jakarta yang mewajibkan siswinya yang beragama Islam memakai jilbab.

"Tidak ada ketentuan mewajibkan dan melarang berjilbab. Pak Ahok menjelaskan jangan ada pemaksaan dengan berjilbab, tapi jilbab itu panggilan hati. Jangan ada pemaksaan," ujar Kadisdik DKI Sopan Adrianto saat dihubungi detikcom, Rabu (8/6/2016).

"Ora onolah (sekolah yang mewajibkan siswanya pakai jilbab)," tegasnya.

Sopan menjelaskan, penggunaan seragam sekolah sudah diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 178 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah. Dalam Pergub dijelaskan bahwa pakaian seragam khas muslimah harus sesuai dengan agama, keyakinan dan keterpanggilan peserta didik yang bersangkutan.

Namun apabila ada pihak sekolah yang mewajibkan atau melarang penggunaan seragam muslimah bagi siswinya, maka Sopan akan memanggil kepala sekolahnya. "Kaseknya akan dimintai keterangan kenapa harus begitu. Seragam untuk peserta didik akan ada aturannya," kata dia.

"Semua diatur di Pergub itu mulai dari model, warna dan lainnya ada di Pergub itu," pungkasnya.

Pada Sabtu (4/6), Ahok menyampaikan larangan kepada sekolah negeri yang mewajibkan muridnya memakai jilbab saat memberikan pemaparan di hadapan seribuan kepala sekolah TK, SD, SMP, dan SMA eselon II di lingkungan Dinas Pendidikan DKI. Bagi Ahok, memakai kerudung atau berhijab adalah keputusan pribadi masing-masing perempuan.

"Ada yang menafsirkan harus pakai, ada yang merasa tidak. Itu lebih baik daripada saya melihat anak-anak dipaksa pakai jilbab, begitu naik motor sama bapaknya langsung dicopot. Itu bagi saya menghina agama. Saya enggak bisa terima. Anda kalau mau pakai jilbab, pakai jilbab yang benar. Bukan karena seragam sekolah," kata Ahok. 
(aws/nrl)

Pelarangan Jilbab TNI Vs Naskah Pidato Bung Tomo

Berikut ini Naskah Pidato Bung Tomo 10 November 1945

Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya
kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua
kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang
mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan
mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih
tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara 
di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana
hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya
Saudara-saudara kita semuanya
kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini
dengarkanlah ini tentara inggris
ini jawaban kita
ini jawaban rakyat Surabaya
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian
hai tentara inggris
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu
kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu
kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita:
selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
tetapi saya peringatkan sekali lagi
jangan mulai menembak
baru kalau kita ditembak
maka kita akan ganti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang
yang ingin merdeka
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

POLWAN MUSLIMAH SE INDONESIA AKAN DEMO: KAPOLDA RIAU: JILBAB POLWAN TIDAK DIBENARKAN :

Kapolda Riau Brigjen Dolly Bambang Hermawan (tengah).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Polda Riau Brigjen Dolly Bambang Hermawan mengeluarkan telegram Nomor ST/68/1/2015 tertanggal 19 Januari 2015 untuk jajarannya. Telegram yang diterima Republikatersebut berisi penegasan tentang penundaan penggunaan jilbab bagi polisi wanita (Polwan).

Telegram tersebut dibagikan mengacu pada beberapa aturan. Di antaranya, satu; Peranturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri. Dua; Surat Keputusan No SKEP/720/IX/2005 Tanggal 30 September 2005 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Seragam Polri dan PNS Dalam Berpakaian Dinas. 

Tiga; Surat Telegram Kapolri Nomor ST/244/XII/2014 tanggal 5 Desember 2014 tentang Penertiban dan Menanamkan Disiplin Personel Polwan Dalam Berpakaian Dinas. Empat; Surat AS SDM Kapolri Nomor B/2544/XV/2014/SSDM tanggal 28 November 2014 Perihal Penggunaan Pakaian Jilbab bagi Polwan.

Sehubungan butir di atas, disampaikan kepada alamat di atas bahwa masih banyak ditemukan pengguna gampol (seragam polisi) khususnya bagi Polwan dan PNS wanita yang tidak sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dengan temuan sebagai berikut.
"Adanya penggunaan jilbab bagi polwan tidak dibenarkan karena belum ada regulasinya," begitu isi telegram tersebut. Hanya saja, klasifikasi telegram tersebut bersifat biasa, bukan rahasia.

BAGAIMANA RASANYA TIDAK PAKAI JILBAB

BAGAIMANA RASANYA TIDAK PAKAI JILBAB

Oleh: Jum'an

Ini adalah catatan tentang eksperimen yang dilakukan oleh Nadia Awady untuk tidak mengenakan jilbab, yang ia tulis dalam "Inner Working of My Mind". Nadia adalah wartawan sains dari Kairo, ibu 4 anak yang dikenal pendiam tetapi sedikit bicaranya mendalam dan inspiratif; rendah hati dan mudah bergaul, tapi sangat disiplin dalam pekerjaan. Ia adalah Presiden World Federation of Science Journalists. Sarjana kedokteran dan Master dalam jurnalisme. Ia juga editor dari Islam Online serta wartawan freelance beberapa media internasional. Dosen jurnalisme pada Egypt University, dan memilih mengurus anak dari pada menjadi dokter" (lihat biografinya).

Ia membuka “rahasia” eksperimennya ini, katanya untuk mengurangi beban rasa hipokrit karena melakukan sesuatu didepan umum secara sembunyi-sembunyi. Mungkin ia akan tetap mengenakan jilbab atau sebaliknya, tapi akan merupakan keputusan sendiri bukan desakan orang lain. Ia telah mengenakan jilbab selama 25 tahun yaitu sejak umur 17. Dalam perjalanan ke Eropa terakhir, ia sengaja tidak memakai jilbab. Ia ingin tahu bagaimana rasanya. Bagaimana perubahan pandangan orang terhadapnya dan apakah pandangannya terhadap dirinya sendiri akan berubah. Mengapa jilbab dianggap wajib? Apakah benar-benar wajib atau hanya keputusan sekelompok laki-laki yang menganggap paling sesuai pada zaman itu untuk melindungi kaum wanita? Apa harus sama sampai sekarang? Apakah seorang wanita benar-benar harus menutupi tubuhnya dari kepala sampai kaki untuk menghindari dilecehkan atau terlihat sebagai objek seks?

Suatu pagi di Barcelona, ia memutuskan untuk keluar kamar hotel mengenakan kemeja lengan pendek, celana jeans, tanpa syal dikepala. Ia turun ke ruangan makan-pagi dan langsung merasakan bahwa ia tidak menjadi perhatian orang. Ia sudah terbiasa diperhatikan orang sebagai wanita yang mengenakan jilbab di Eropa. Lebih-lebih ketika di ruang sarapan di hotel: seorang wanita yang mengenakan jilbab, berjalan ke restoran sendirian. "Selama bepergian dalam beberapa tahun terakhir, untuk pertama kalinya diruang sarapan-pagi hotel ini saya tidak menjadi perhatian orang. Dan seketika saya merindukan perhatian. Terus terang saya merasa kecewa." Diam-diam selama ini dia menikmati menjadi perhatian orang karena jilbabnya. Iapun mencoba berjalan-jalan di Barcelona untuk berbelanja tanpa berjilbab. Tidak ada yang aneh. "Terasa saya hanyalah satu dari ribuan orang di jalan dan di pertokoan. Apakah saya memang sekedar satu diantara ribuan orang lain? Apakah saya selalu tidak diperhatikan orang?" Karena ini hanya eksperimen, iapun memutuskan untuk menghadiri bussiness meeting dengan berpakaian biasa dengan berjilbab, seperti biasanya. Karena ia bukan sedang memutuskan untuk melepas jilbab untuk selamanya, tidak ada alasan untuk membuat bingung rekan-rekan dipertemuan itu.

Begitu selama berhari-hari: Ke pertemuan bisnis mengenakan jilbab, keluar sendiri dijalanan tanpa jilbab. Suatu pengalaman yang menarik. "Ketika saya menduga-duga pikiran orang tentang diri saya dengan dan tanpa jilbab rasanya tidak begitu berbeda. Di ruang sarapah dihotel, tanpa jilbab, memang saya merasa tidak dilihat dan kurang diperhatikan, tetapi diluar saya lebih-lebih merasakan tidak diperhatikan orang, apapun yang saya kenakan. Bahkan ketika saya memakai tok pendek dan sepatu tinggi. Saya mencoba hal yang sama di London dan hasilnya sama. Orang yang tidak mengenal saya tidak peduli bagaimana saya berpakaian.”

“Ada dua hal yang terasa saat saya berjalan-jalan di Barcelona dan di London tanpa jilbab. Saya merasa melihat Nadia yang saya kenal bertahun-tahun yang lalu muncul kembali. Yaitu Nadia anak SMA. Nadia sebelum berjilbab. Bukannya saya merasa muda kembali. Rasanya seperti saya telah dikupas beberapa lapisan untuk melihat kembali diri saya bertahun-tahun lalu. Sungguh menyegarkan…… Saya juga merasa lebih feminin daripada yang pernah saya rasakan selama hidup saya. Saya merasa lebih sebagai perempuan. Bukan dalam arti orang lebih memperlakukan saya sebagai seorang wanita. Tapi saya secara internal merasa lebih feminin. Sungguh mengasyikkan......”

Ia pun pulang ke Kairo dengan tetap mengenakan jilbab. Ia merasa tidak menyesal karena telah bereksperimen. “Ada bagian dari diri saya yang masih merasa bahwa jilbab mungkin wajib. Mungkin Allah memang benar-benar menghendaki saya berpakaian seperti ini. Sementara itu, saya senang merasa mempunyai pilihan. Saya dapat bereksperimen di Eropah atau dikalangan teman-teman dekat. Dan merasa terhibur karena saya bisa terus memakai jilbab saya ketika saya merasa itu lebih tepat, baik untuk saya atau untuk orang di sekitar saya."

"Saya tidak menulis ini untuk mendapatkan pujian dari mereka yang tidak suka jilbab. Bukan pula mengharapkan teguran “berani-beraninya kamu berbuat begitu” dari yang mewajibkan jilbab. Saya menulisnya karena itulah yang saya lakukan. Saya merasakan karena itu saya tulis.”